BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa mendapatkan stimulus, dan dituntut selalu memberikan reaksi secepat mungkin. Untuk menguji subjek tentang kecepatan untuk menentukan respon itu digunakanlah alat ini, Reactiontimes apparatus merupakan alat untuk mengukur human reaction time, yaitu selang waktu antara pemberian reaksi kepada seorang hingga ia memberikan respon. Terdapat 2 cara dalam pengukuran ini, yaitu :
a. Simple reaction
Time stimulus yang menuntut repon mendadak, seperti memencet tombol, menginjak pedal, dll. Selain gerak refleks, respon ini membutuhkan proses pengolaan stimulus, pengambilan keputusan, dan tindakan respon.
b. Discriminate reaction time tipe ini memunculkan sejumlah stimulus yang ditentukan. Aspek terpenting pada discriminate reaction time ini adalah proses kognitif kecepatan reaksi subjek terhadap stimulus diukur dengan menggunakan indikasi berupa sinyal lampu merah dan hijau yang dapat dimunculkan secara acak. Disekeliling sinyal lampu merah atau hijau diberi stimulus pengganggu berupa nada bising dan lampu yang bisa dinyalakan dengan efek berputar cepat atau lambat baik searah atau berlawanan arah jarum jam.
Dalam kehidupan keseharian kita tentu sering menjumpai garis dan pengukurannya. Bagi seorang yang bergelut di bidang pengukuran, presepsi tentang panjang garis sangatlah penting, namun tak jarang persepsi tentang panjang garis Muller Lyer ini sering menggelabui indera visual orang-orang Muller Lyer Apparatus mempergerakkan ilusi klasik yaitu garis dengan arah anak panah kedalam dan keluar. Dimana anak-anak panah yang arahnya kedalam seolah-olah akan membuat garis lebih panjang dari pada anak panah yang keluar walaupun sebenarnya panjang garisnya sama.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian tentang Reaction?
2. Jenis-jenis Reaction?
3. Bentuk latihan Reaction?
4. Manfaat Reaction?
5. Tes Reaction?
C. TUJUAN
1. Untuk menjawab secepat mungkin sesaat setelah mendapat suatu respon atau peristiwa dalam suatu waktu
2. Indera akan mengubah informasi tersebut menjadi implus-implus saraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak
3. Kemampuan seorang atlet mereaksi munculnya rangsang
4. Mengukur waktu reaksi tangan dan kaki dengan rangsangan penglihatan dan pendengaran
5. Mengukur waktu reaksi tangan dengan rangsangan visual
D. MANFAAT
1. Mempercepat perambatan rangsang ke otak
2. Mampu menanggapi rangsangan atau stimulus yang diberikan orang lain
3. Meningkatkan reaksi terhadap rangsangan pandang
4. Meningkatkan reaksi terhadap rangsangan pendengaran
5. Meningkatkan reaksi terhadap rangsangan rasa
BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Reaksi (Reaction)
Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang timbul lewat indera.
Menurut Treadwell (1991) yang dikutip oleh Saifudin (1999: 1-11) kecepatan bukan hanya melibatkan seluruh kecepatan tubuh, tetapi melibatkan waktu reaksi yang dilakukan oleh seseorang pemain terhadap suatu stimulus. Kemampuan ini membuat jarak yang lebih pendek untuk memindahkan tubuh. Kecepatan bukan hanya berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan cepat, akan tetapi dapat pula menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam lari sprint kecepatan larinya ditentukan oleh gerakan berturut-turut dari kaki yang dilakukan secara cepat, kecepatan menendang bola ditentukan oleh singkat tidaknya tungkai dalam menempuh jarak gerak tendang.
Kecepatan anggota tubuh seperti lengan atau tungkai adalah penting pula guna memberikan akselerasi kepada objek-objek eksternal seperti sepakbola, bola basket, tenis lapangan, lempar cakram, bola voli, dan sebagainya. Kecepatan tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu strength, waktu reaksi, dan fleksibilitas (Harsono 1988: 216). Untuk melakukan gerakan kecepatan adalah merupakan hasil dari jarak per satuan waktu (m/dt), misalnya 100 km per jam atau 120 meter per detik.
Kecepatan mengacu pada kecepatan gerakan dalam melakukan suatu keterampilan bukan hanya sekedar kecepatan lari. Menggerakkan kaki dengan cepat merupakan keterampilan fisik terpenting bagi pemain bertahan dan harus ditingkatkan kemampuan mengubah arah pada saat teakhir merupakan hal yang terpenting lainnya. Kecepatan merupakan salah satu dari komponen kondisi fisik. Menurut Mochamad Sajoto (1995: 9) kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan kesinambungan dalam waktu yang sesingkat- singkatnya.
Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menghadapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera. Syaraf atau rasa lainnya. Status kondisi fisik seseorang dapat diketahui dengan cara penilaian bentuk tes dan kemapuan (M. Sajoto, 1995:10).
Reaksi dapat dibedakan menjadi tiga macam tingkatan yaitu reaksi terhadap rangsangan pandang, reaksi terhadap pendengaran dan reaksi terhadap rasa. Seorang pemain sepak bola harus mempunyai reaksi yang baik, hal ini dimaksudkan agar pemain mampu untuk bergerak dengan cepat dalam mengelolah bola. Biasanya reaksi sangat dibutuhkan oleh seorang penjaga gawang untuk menhalau bola dari serangan lawan, akan tetapi semua pemain dituntut juga harus mempunyai reaksi yang baik pula.
Sebelum diterjunkan ke arena pertandingan, seorang pemain sudah berada dalam kondisi dan tingkat kesegaran jasmani yang baik untuk menghadapi intensitas kerja dan tekanan-tekanan yang akan timbul dalam pertandingan.
Proses latihan kondisi dalam olahraga adalah suatu proses yang harus dilakukan dengan hati-hati, dengan sabar dan penuh kewaspadaan terhadap atlet. Melalui latihan yang berulang-ulang dilakukan, yang intensitas dan kompleksitasnya sedikit demi sedikit bertambah, lama-kelamaan seorang pemain akan berubah menjadi seorang pemain yang lincah, tearmpildan berhasil guna.
Setelah pemain tingkat kondisi yang baik untuk menghadapi musim-musim berikutnya. Latihan-latihan kondisi tersebut harus tetap dilanjutkan selama musim dekat perlombaan, meskipun tidak seintensif seperti sebelumnya. Maksudnya adalah tingkatan kondisi fisik dapat tetap dipertahankan selama musim-musim tersebut.
Faktor yang mempengaruhi reaksi antara lain :
Kesiagaan
Kesiapan untuk melakukan gerakan
Usia
Kebiasaan
Gerak itu sendiri
Contoh latihannya :
• Menangkap bola tenis yang dilempar ke kanan dan ke kiri oleh orang lain
• Melaksanakan perintah melalui indera pendengaran, contoh permainan perintah dengan peluit
• Melaksanakan perintah melalui indera penglihatan, contoh permainan membentuk kelompok.
2. Jenis-Jenis Reaction
a. Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi berasal dari kata “kecepatan” dan “reaksi”. Kecepatan merupakan sejumlah gerakan per waktu. Reaksi berarti kegiatan (aksi) yang timbul karena satu perintah atau suatu peristiwa. Dari penjabaran tersebut, maka kecepatan reaksi adalah gerakan yang dilakukan tubuh untuk menjawab secepat mungkin sesaat setelah mendapat suatu respons atau peristiwa dalam satuan waktu.
Dalam banyak cabang olahraga, kecepatan merupakan komponen fisik yang sangat penting. Kecepatan menjadi faktor penentu di cabang-cabang olahraga., kecepatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam suatu pertandingan. Dalam olahraga sepak takraw, kecepatan adalah hal yang mutlak diperlukan terutama dalam melakukan servis, smash dan block, seperti yang dikemukakan oleh Frank W. Dick, kecepatan dalam teori kepelatihan berarti kemampuan menggerakkan anggota badan, kaki atau lengan atau bagian statis pengumpil tubuh bahkan keseluruhan tubuh dengan kecepatan terbesar yang mampu dilakukan.
Dalam aktivitas gerakan sepaktakraw seperti smash kedeng, kecepatan tendangan merupakan hal yang sangat diperlukan agar dengan segera bola yang ditendang mengarah ke daerah terseulit pertahanan lawan. Kecepatan menurut Harsono, ialah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Secara kinesiologi, Dadang M. Mengemukakan bahwa kecepatan sebagai perubahan posisi benda pada arahnya dalam satu satun waktu. Menurut M. Sajoto, kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat dikemukakan bahwa kecepatan adalah kemampuan untuk memindahkan atau merubah posisi tubuh atau anggota tubuh dalam menempuh suatu jarak tertentu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan satuan waktu. Agar seseorang bereaksi dengan cepat, kecepatan harus dirangsang gerak secepat mungkin. Kecepatan reaksi di kemukakan oleh Claude Bouchard yang dalam terjemahan oleh Moeh. Soebroto bahwa : kecepatan reaksi adalah kualitas yang mrmungkinkan memulai suatu jawaban kinetis secepat mungkin setelah menerima suatu rangsang. Kecepatan reaksi merupakan kualitas yang sangat spesifik yang terlihat melalui berbagai jalan keanekagaraman manifestasi tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 tingkatan :
1. Pada tingkat rangsang, dalam suatu persepsi tanda bersifat penglihatan, pendengaran dan perubahan.
2. Pada tingkat pengambilan keputusan, kerap kali perlu dipilih dalam kepenuhan aneka ragam tanda agar hanya mereaksi pada rangsang yang tepat.
3. Pada tingkat pengorganisasian reaksi kinetis, diskriminasi atau pilihan perpektif biasanya disertai perlunya penetapan pilihan diantara berbagai respons kinetis yang dibuat setelah itu.
Hal yang sama dikemukakan oleh Suharno H.P bahwa faktor-faktor penentu khusus kecepatan reasksi yaitu : tergantung iritabiliti dari susunan syaraf, daya orientasi situasi yang dihadapi oleh atlet, ketajaman panca indera dalam menerima rangsangan, kecepatan gerak dan gaya ledak otot. Kecepatan reaksi atau daya reaksi adalah kemampuan merespons sesaat setelah stimulus yang diterima syaraf yang berupa bunyi atau tanda lampu menyala.
Beberapa prinsip yang perlu ditaati dalam usaha meningkatkan pengembangan kecepatan reaksi yaitu meningkatkan pengenalan terhadap situasi prsepsi khusus dan mengotomatisasikan semaksimal mungkin jawaban motoris yang perlu dibuat atau sikap kinetis yang perlu dipilih dalam situasi nyata. Oleh karena itu sangat perlu adanya metode latihan yang mengkondisikan atlet pada situasi pertandingan yang sesungguhnya, di mana atlet dituntut melakukan gerakan secepat-cepatnya dalam waktu yang singkat.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kecepatan reaksi adalah kemampuan individu dalam melakukan gerakan dari mulai adanya stimulus hingga berakhirnya respons dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Maka, kedua apit itu dituntut untuk memiliki kecepatan reaksi yang baik dalam melakukan smash kedeng agar lawan tidak sempat mengantisipasi ke mana bola akan diarahkan. Dengan memiliki kecepatan teknik yang baik di dukung dengan kecepatan reaksi yang tinggi akan mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan smash kedeng dengan bagian luar samping kanan.
b. Waktu Reaksi
Waktu reaksi adalah periode diterimanya rangsang (stimuli) dengan permulaan munculnya jawaban (respon). Semua informasi yang diterima indera baik dari dalam maupun dari luar disebut rangsang. Indera akan mengubah informasi tersebut menjadi implus-implus saraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak.
Dalam banyak cabang olahraga, khususnya permainan dan lari cepat, kemampuan seorang atlet untuk mereaksi munculnya rangsang, seperti misalnya datangnya bola dari lawan pada permainan tenis, suara pistol dari starter pada lari 100 meter akan mempengaruhi penampilan. Faktor-faktor ini berhubungan dengan waktu reaksi. Berdasarkan kepekaan indera dan kecepatan proses persarafan, waktu reaksi dibedakan atas: waktu reaksi sederhana dan waktu reaksi kompleks (Bompa, 1990).
Waktu reaksi sederhana terjadi ketika subjek memberikan jembatan yang spesifik terhadap rangsang yang telah ditentukan atau diketahui sebelumnya, misalnya reaksi terhadap bunyi pistol dalam start, menekan tombol penjawab ketika lampu rangsang menyala.
Waktu reaksi kompleks berhubungan dengan kasus dimana subjek dihadapkan pada beberapa rangsang dan harus memilih atau menentukan satu respon. Subjek harus mempelajari respon yang harus dibuat ketika menjawab rangsang yang spesifik. Reaksi kompleks dilakukan dalam permainan-permainan, misalnya tenis, voli, dan olahraga-olahraga pertandingan, misalnya tinju atau anggar.
Dalam kegiatan olahraga ini, atlet secara terus-menerus menerima sejumlah rangsang yang berbeda dan hau menentukan respon yang tepat dari berbagai kemungkinan yang ada. Kecepatan pada waktu reaksi sederhana bergantung dari ketajaman indera dan pada kecepatan perambatan impulse saraf dari dan ke otak. Kecepatan pada waktu reaksi kompleks bergantung pada kecepatan beriorintasi dalam situasi permainan, kepekaan indera yang terkait, kecepatan perambatan rangsang ke otak, waktu pusat yang berkenaan dengan persepsi dan pengambilan keputusan, waktu penyebaran sinyal ke otot, dan waktu peripheral sebelum bergerak.
Waktu reaksi sangat besar peranannya pada cabang olahraga yang membutuhkan kecepatannya, misalnya dalam olahraga tinju, karte, ski air, lari cepat, dan lebih penting lagi pada cabang olahraga yang membutuhkan keterampilan terbuka, misalnya dalam gerakan-gerakan bola basket, sepak bola, soft ball, tenis meja, tenis dan badminton.
3. Bentuk Latihan Reaksi
1. Kondisikan diri agar selalu tenang
Tidak hanya dalam seni beladiri, saat anda sedang mangemudi, atau saat anda bermain badminton pun, ketenangan serta pikiran yang jernih akan memampukan anda untuk bereaksi dengan cepat dan tepat.
Panik, takut, ataupun terlalu fokus justru membuat kemampuan anda untuk membaca serangan lawan ataupun melihat peluang untuk melakukan serangan menjadi berkurang atau bahkan hilang. Dengan tetap santai dan berpikir jernih, apapun yang dilakukan oleh lawan akan terlihat lebih lambat, dengan begitu anda akan memiliki “lebih banyak waktu” untuk bisa berkelit, menangkis, ataupun memanfaatkan kesempatan yang muncul untuk melakukan serangan.
2. Berlatih menangkap bola
Bola reaksi (reaction ball)adalah alat yang bagus untuk melatih refleks. Bola reaksi adalah sebuah bola kecil (tidak lebih besar dari genggaman tangan orang dewasa) yang memiliki 6 bulatan kecil di sisinya yang kalau dilemparkan ke tembok yang rata akan memantul dengan arah yang tidak bisa diperkirakan.
Ada dua macam latihan yang bisa dilakukan dengan bola reaksi ini:
1. Latihan jatuhkan dan tangkap, latihan ini dilakukan dengan cara menjatuhkan bola ke lantai, biarkan memantul sekali, kemudian tangkap kembali. Lakukan dengan bertahap, mulai dari setinggi pinggang untuk kemudian terus ditambah ketinggiannya seiring degan kemajuan latihan anda. Untuk menambah tingkat kesulitannya, anda juga bisa, melemparkan (bukan sekedar menjatuhkan) bola tersebut ke lantai.
2. Pantulkan ke tembok
Berdirilah dengan jarak 2-3 meter ke tembok, lemparkan bola ke tembok (cara melemparnya adalah seperti saat anda melempar bola dalam permainan kasti), biarkan memantul sekali, kemudian tangkaplah dengan satu atau dua tangan. Setelah mahir, anda bisa menambah kecepatan lemparan, atau anda juga bisa melempar (dan menangkap) bola sambil bergerak ke kiri-kanan ataupun ke depan-belakang.
3. Melempar bola beraneka warna
Menangkap bola beraneka warna adalah salah satu latihan yang paling menantang. Setiap warna mewakili aksi berbeda yang harus anda lakukan. Aksi tersebut bisa berupa menangkap dengan tangan kiri, menangkap dengan tangan kanan, menangkap dengan kedua tangan, menghindar, memukul, menendang, atau yang lain. Misalnya kalau bola warna biru yang dilemparkan, maka anda harus menangkapnya dengan tangan kiri; atau kalau bola warna merah yang dilemparkan, anda hasus menghindarinya.
Berdiri dengan jarak 3-5 meter, rekan anda akan melemparkan bola beraneka warna kearah anda satu persatu. Tugas anda adalah secepat mugkin mengenali warna bola yang dilemparkan untuk kemudian bereaksi dengan cara melakukan aksi yang telah ditentukan. Setelah dirasa mahir, anda bisa memperpendek jeda lemparan bola, menambah warna dan aksi yang harus dilakukan, atau keduanya.
4. Kombinasi aksi/reaksi
Untuk seni beladiri yang mengandalkan pukulan dan tendangan, latihan kombinasi aksi/reaksi ini adalah bentuk latihan yang paling sederhana untuk meningkatkan refleks. Minta rekan latihan anda untuk melakukan serangan apapun dan kapanpun dia mau. Momen dan sudut serangan yang tidak bisa di duga akan melatih kita untuk melihat serangan dan bereaksi terhadap serangan itu.
Mulai dengan meminta rekan latihan andan menyerang kapanpun dia mau dengan satu serangan yang telah ditentukan (memukul dengan tangan kiri, memukul dengan tangan kanan, menendang dengan kaki kiri, atau menendang dengan kaki kanan). Setelah dirasa cukup, lakukan hal yang sama hanya bedanya minta rekan latihan kita untuk melakukan satu jenis serangan (pukulan misalnya) tapi boleh melakukannya dengan tangan kiri, demikian pula dengan tendangan.
Setelah mulai mahir, minta rekan latihan anda untuk melakukan satu serangan (memukul atau menendang) bebas dengan tangan/kaki kanan ataupun kiri. Demikian seterusnya sampai anda terbiasa melihat dan bereaksi terhadap serangan apapun dan kapanpun juga. Setelah itu, minta rekan latihan anda untuk menyerang labih dari satu kali kapanpun dan dengan kombinasi gerakan apapun.
Untuk seni beladiri yang mengandalkan bantingan dan kuncian, prinsip yang sama juga bisa diaplikasikan. Minta rekan latihan anda untuk menangkap andan dimanapun dia mau, dan lakukan waza atau respon yang sesuai.
5. Slow sparring
Inilah metode yang paling efisien (dan juga aman) untuk megembangkan kemampuan bertarung. Walupun lambat (baik gerakan maupu jeda antar serangan), latihan ini efektif untuk meningkatkan kecepatan reaksi baik dalam pertandingan maupun perkelahian sebenarnya. Justru karena lambat anda akan bisa ‘merasakan’ lawan, dan memberi anda cukup waktu untuk berpikir dan bereaksi.
Mulai dengan melatih teknik bertahan saja, dengan begitu anda akan bisa fokus bereaksi terhadap serangan apapun yang dilakukan oleh rekan latihan anda. Setelah merasa cukup puas dengan reaksi dan respon bertahan anda (menangkis ataupun mengejak), anda bisa menambahkan serangan balik, sambil meminta rekan latihan anda untuk terus meningkatkan kecpatan gerakannya sedikit demi sedikit.
4. Manfaat Reaction
Jika kita sering melatih reaksi maka kita akan mendapatkan hasil atau tingkat reaksi terbaik dalam diri kita. Karena reaksi sangat penting dalam kehidupan kita setiap hari saat melakukan suatu pekerjaan maka reaksi pergerakan tubuh kita lebih maksimal atau lebih baik jika reaksi dilakukan dengan cepat. Suatu pekerjaan akan cepat selesainya jika seseorang yang mengerjakan oleh seseorang yang mempunyai reaksi yang cepat.
Dalam berolahraga reaksi sangat dibutuhkan untuk pergerakan seseorang menjadi cepat. Dalam dunia olahraga orang yang mempunyai reaksi yang baik akan sangat dicari entah untuk pertandingan dalam salah satu bidang olahraga atau untuk melatih. Makanya sekarang di negara negara maju dalam hal olahraga banyak melakukan tes reaksi sebelum diterima dalam suatu pekerjaan.
5. Tes Reaction
Tes reaksi pada dasarnya dilaksanakan untuk mengetahui tingkat reaksi seseorang dalam suatu kondisi tertentu.hal ini sangat diperlukan dalam pengembangan prestasi. Karena akan banyak kita hadapi berbagai situasi dalam berolahraga.
Tes reaksi diantaranya adalah Whole Body Reaction dan Speed Anticipation Reaction.
Whole Body Reaction
Jenis tes ini terdapat dua macam. Yaitu Visual dan Audiovisual.
Jika visual hanya menggunakan alat indra mata saja dalam tes ini.yaitu dengan melihat cahaya pada alat tes. Disana akan terdapat empat warna. (merah, biru, kuning, dan hijau)
Tetapi jika yang Audiovisual yaitu menggunakan mata dan telinga, karena yang akan terdapat di alat tes adalah suara dan cahaya.
Prosedur pelaksanaan tes (visual) :
o Alat on
o Orang coba berdiri pada alas tumpu yang tersedia. ( boleh rileks saja )
o Pandangan kearah sensor yang akan mengeluarkan cahaya.
o Ketika lampu menyala, orang coba secepatnya melakukan reaksi dengan membuka kedua kaki atau mengeluarkan kedua kaki dari alas tumpu tadi.
o Satuan alat ini adalah detik
o Dilakukan 3 kali, diambil hasil yang terbaik.
o Norma Whole Body Reaction
Kategori Prestasi (dtk)
Istimewa 0.001 – 0.100
Bagus Sekali 0.101 – 0.200
Bagus 0.201 – 0.300
Cukup / Sedang 0.301 – 0.400
Kurang 0.401 – 0.500
Kurang Sekali 0.501 – ke atas
Speed Anticipation Reaction
Tes ini dilaksanakan untuk mengetahui antisipasi seseorang.
Alat on
Terdapat tombol start dan restart
Satuan alatnya Second
Norma
Normal 1.00- 2.00 detik
Tidak Normal 0.99 kebawah dan 2.01 keatas
Di dalam papan alat tes terdapat daerah momentum dan blank spot
Orang coba duduk di depan papan tersebut.
Perhatikan cahaya yang berjalan di daerah momentum
Dan bayangkan cahaya itu tetap berjalan pada daerah blank spot dan pencet tombol jika sudah anda bayangkan cahaya itu sudah masuk pada lingkaran.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang timbul lewat indera.
Menurut Treadwell (1991) yang dikutip oleh Saifudin (1999: 1-11) kecepatan bukan hanya melibatkan seluruh kecepatan tubuh, tetapi melibatkan waktu reaksi yang dilakukan oleh seseorang pemain terhadap suatu stimulus.
Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menghadapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera. Syaraf atau rasa lainnya. Status kondisi fisik seseorang dapat diketahui dengan cara penilaian bentuk tes dan kemapuan (M. Sajoto, 1995:10).
Reaksi dapat dibedakan menjadi tiga macam tingkatan yaitu reaksi terhadap rangsangan pandang, reaksi terhadap pendengaran dan reaksi terhadap rasa. Seorang pemain sepak bola harus mempunyai reaksi yang baik, hal ini dimaksudkan agar pemain mampu untuk bergerak dengan cepat dalam mengelolah bola.
Kecepatan anggota tubuh seperti lengan atau tungkai adalah penting pula guna memberikan akselerasi kepada objek-objek eksternal seperti sepakbola, bola basket, tenis lapangan, lempar cakram, bola voli, dan sebagainya.
B. Saran
Diharapkan bagi pembaca agar dapat memberi masukan positif terhadap makalah ini supaya kami sebagai penulis dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan terhadap makalah kami. Kami sebagai penulis masih banyak melakukan kesalahan terhadap pembuatan makalah ini. Kami berharap ada yang dapat diambil sebagai ilmu bagi pembaca makalah ini. Saran anda sebagai pembaca dapat memberikan motivasi terhadap kami agar kami dapat bersemangat untuk menulis makalah lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
BIODATA PENULIS
NAMA : NUR QOLBIANAH
NIM : 1731042048
KELAS : PENJASKESREK E 017
TTL : SELAYAR, 16 JULI 1999
ALAMAT : JL. POROS MALINO BTN NUSA TAMARUNANG BLOK G1/13
NAMA : FARID FATURRAHMAN
NIM : 1731042039
KELAS : PENJASKESREK E 017
TTL : TANETE, 24 MEI 1999
ALAMAT : DG. TATA 1 BLOK 2 NO. 11
NAMA : ARIA AZIKIN AMIR
NIM : 1731042046
KELAS : PENJASKESREK E 017
TTL : SINJAI, 28 JUNI 1998
ALAMAT : BTN TAMARUNANG INDAH 2
NAMA : ANDI FATHURAHMAN MALIK
NIM : 1731042044
KELAS : PENJASKESREK E 017
TTL : MAKASSAR, 20 AGUSTUS 1999
ALAMAT : MINASA UPA BLOK AB/13 NO. 30
NAMA : MUH. RAHMAT
NIM : 1731042042
KELAS : PENJASKESREK E 017
TTL : PANGKEP, 10 DESEMBER 1998
ALAMAT : PANGKEP
Kamis, 16 Mei 2019
TES DAN PENGUKURAN KELOMPOK 8
KELOMPOK 8
TES DAN PENGUKURAN
(KOORDINASI)
ANDI REZA ISKANDAR (1731042037)
WAHYU HIDAYAT ( 1731042035)
Muh.Gunawan (1731042034)
Muhammad Fahrul Hamid (1731042032)
Kata Pengantar
Puji syikur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Koordinasi”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Belajar Motorik.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semua dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua, amin.
Makassar, 13 Februari 2019
Daftar isi
Kata pengantar...................................................................................................i
Daftar isi............................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
Latar belakang...................................................................................................1
Rumusan Masalah.............................................................................................1
Tujuan................................................................................................................1
Manfaat..............................................................................................................2
BAB II Koordinasi
Hakikat koordinasi............................................................................................3
Macam-macam koordinasi................................................................................6
Koordinasi Gerakan..........................................................................................8
Dasar-dasar latihan koordinasi.........................................................................11
BAB III Penutup
Kesimpulan......................................................................................................14
Saran.................................................................................................................14
Daftar Pustaka...................................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Koordinasi gerak dilihat sebagai pengatur terhadap proses-proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui sistem persyarafan atau disebut dangan intra muskulare koordination.
Koordinasi gerak meliputi peng-koordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam suatu pelaksanaan gerakan. pengkoordinasian tersebut diatur sedemikian rupa oleh sistem persyarafan. Yang diatur disini adalah :penyesuaian komponen-komponen kekuatan dan kecepatan yang dibutuhkan oleh otot dalam pelaksanaan gerak sesuai dangan kebutuhan setiap bagian gerak.
Kebutuhan akan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhaan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksanaannya. Derajat kordinasi yang tinggi ini sangat bermanfaat untuk pekerjaan yang tidak rutin dan tidak dapat diperkirakan, faktor-faktor lingkungan selalu berubah-ubah serta saling ketergantungan adalah tinggi.
Komunikasi adalah kunci koordinasi yang efektif. Koordinasi secara langsung tergantung pada perolehan, penyebaran dan pemprosesan informasi. Semakin besar ketidak pastian tugas yang dikoordinasi, semakin membutuhkan informasi. Untuk alasan ini, koordinasi pada dasarnya merupakan tugas pemprosesan informasi.
Dalam beberapa situasi adalah tidak efisien untuk mengembangkan cara pengkoordinasian tambahan. Ini dapat dilakukan dengan penyediaan tambahan sumber daya-sumber daya untuk satuan-satuan organisasi atau penglompokan kembali satuan-satuan organisasi agar tugas-tugas dapat berdiri sendiri.
Rumusan masalah
1. Jelaskan pengertian koordinasi ?
2. Apa saja macam-macam koordinasi ?
3. Apa yang di maksud koordinasi Gerakan ?
4. Sebutkan Dasar-dasar latihan koordinasi ?
5. Apa saja latihan koordinasi?
Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu koordinasi
2. Untuk mengetahui macam-macam koordinasi
3. Untuk mengetahui koordinasi Gerakan
4. Untuk mengetahui Dasar-dasar latihan koordinasi
5. Untuk mengetahui apa saja latihan koordinasi
Manfaat
1. Agar kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan kordinasi
2. Agar membuat pembaca mengetahui cara melatih dan mengembangkan kordinasi geraknya
BAB II
KOORDINASI
Hakikat Koordinasi
1. Pengertian Koordinasi Menurut para ahli
Koordinasi adalah suatu kemampuan biomotorik yang sangat kompleks (Harsono 1988: 219). Selanjutnya Mochamad Sajoto (1995: 9) koordinasi adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerakan yang berbeda kedalam pola gerakan tunggal secara efektif. Setiap orang untuk dapat melakukan gerakan atau keterampilan baik dari yang mudah, sederhana sampai yang rumit diatur dan diperintah dari sistem syaraf pusat yang sudah disimpan di dalam memori terlebih dahulu. Jadi untuk dapat melakukan gerakan koordinasi yang benar diperlukan juga koordinasi sistem syaraf yang meliputi sistem syaraf pusat dan sistem syaraf tepi dengan otot, tulang, dan sendi.
Menurut Rusli Lutan, dkk (2000: 77), koordinasi adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien dan penuh ketepatan. Koordinasi diperlukan hampir disemua cabang olahraga yang melibatkan kegiatan fisik, koordinasi juga penting bila berada dalam situasi dan lingkungan yang asing, misalnya perubahan lapangan pertandingan, peralatan, cuaca, lampu penerangan, dan lawan yang dihadapi. Tingkatan baik atau tidaknya koordinasi gerak seseorang tercermin dalam kemampuannya untuk melakukan suatu gerakan secara mulus, tepat, cepat, dan efisien. Seorang atlet dengan koordinasi yang baik bukan hanya mampu melakukan suatu keterampilan secara sempurna, akan tetapi juga mudah dan cepat dalam melakukan keterampilan yang masih baru baginya.
Koordinasi yang baik dapat mengubah dan berpindah secara cepat dari pola gerak satu kepola gerak yang lain sehingga gerakannya menjadi efektif. Sedangkan menurut Suharno (1982:110) koordinasi adalah kemampuan seseorang untuk merangkai beberapa unsur gerak menjadi suatu gerakan yang selaras sesuai dengan tujuannya. atau kemampuan menampilkan tugas gerak dengan luwes dan akurat yang seringkali melibatkan perasaan dan serangkaian koordinasi otot yang mempengaruhi gerakan. Menurut Sajoto (1988:59) Koordinasi berasal dari kata coordination adalah kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan gerakan yang berbeda ke dalam suatu pola gerakan tunggal secara efektif. Sedangkan Nossek (1982:89) berpendapat bahwa koordinasi adalah kemampuan untuk memadukan berbagai macam gerakan ke dalam satu atau lebih pola gerak khusus.
Menurut Bompa (2004:43) coordination is a complex motor skill necessary for high performance. Koordinasi merupakan keterampilan motorik yang kompleks yang diperlukan untuk penampilan yang tinggi. Menurut Rusli Lutan (2000:77) koordinasi adalah kemampuan melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat, efisien, dan penuh ketepatan. Menurut Schmidt (1988:265) Koordinasi adalah perpaduan perilaku dari dua atau lebih persendian, dimana antara yang satu dengan yang lainya saling berkaitan dalam menghasilkan suatu keterampilan gerak.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa koordinasi adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang individu dalam memadukan berbagai macam gerak yang berbeda-beda, dengan kesulitan yang berbeda, tetapi dilakukan secara cepat dan tepat.
Mengenai indikator koordinasi, Sukadiyanto (2005: 139) menyatakan bahwa indikator utama koordinasi adalah ketepatan dan gerak yang ekonomis. Dengan demikian koordinasi merupakan hasil perpaduan kinerja dari kualitas otot, tulang, dan persendian dalam menghasilkan gerak yang efektif dan efisien. Dimana komponen gerak yang terdiri dari energi, kontraksi otot, syaraf, tulang dan persendian merupakan koordinasi neuromuskuler. Menurut Sukadiyanto (2005: 139) koordinasi neuromuskuler adalah setiap gerak yang terjadi dalam urutan dan waktu yang tepat serta gerakannya mengandung tenaga.
Koordinasi neuromuskuler meliputi koordinasi intramuskuler dan intermuskuler. Pada koordinasi intramuskuler adalah kinerja dari seluruh serabut syaraf dan otot dalam setiap kerja otot yang berkontraksi secara maksimum. Kinerja otot tergantung dari interaksi serabut syaraf dan serabut otot di dalam
otot itu sendiri. Ciri orang yang memiliki koordinasi intramuskuler baik, dalam melakukan gerak akan serasi, tepat, ekonomis, dan efektif. Sedangkan pada koordinasi intermuskuler melibatkan efektivitas otot-otot yang bekerjasama dalam menampilkan satu gerak (Sukadiyanto, 2005: 139). Sebagai contoh, pemain sepakbola yang bermain di posisi sayap dituntut untuk bisa melakukan crossing (passing atas secara menyilang) sambil berlari cepat atau sprint. Pemain sepakbola yang memiliki koordinasi baik sudah pasti bisa melakukan crossing bola dengan benar, tetapi bagi pemain sepakbola yang memiliki koordinasi buruk akan kesulitan dalam melakukan crossing. Fungsi koordinasi adalah menghasilkan satu pola gerakan yang serasi, berirama dan kompleks maka dari itu fungsi latihan koordinasi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Menurut Suntoro (2006:214), bahwa koordinasi adalah penyesuaian dan pengaturan yang baik. Dari paparan di atas untuk lebih jelas berikut akan dibahas anatomi mata, tangan, dan otak:
Anatomi mata terdiri dari tiga bagian yaitu :
• Lapisan luar, fibrus yang merupakan lapisan penyangga.
• Lapisan tengah, vaskuler.
• Lapisan dalam, lapisan saraf
Mata memiliki banyak fungsi dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya mata membantu seseorang mengambil sesuatu dibantu dengan tangan. Mata akan terasa fungsinya ketika bekerjasama dengan organ lainnya. Tanpa adanya kerja sama dengan organ lain, mata hanya untuk melihat saja tanpa bisa membantu manusia dalam melakukan aktifitas sehari-harinya.
• Anatomi Tangan
Tangan adalah alat gerak sangat membantu manusia dalam menjalankan aktifitas sehari-harinya. Karena aktifitas manusia tidak lepas dari tangan. Tangan adalah anggota badan dari pergelangan tangan sampai ke ujung jari Budiono, (2005:536). Tidak jauh berbeda dengan pernyataan Wikimedia (2009:1) bahwa tangan adalah bagian tubuh di ujung suatu lengan. Sebagian besar manusia. memiliki dua tangan, biasanya dengan empat jari dan satu ibu jari. Bagian dalam tangan adalah telapak tangan.
• Anatomi Otak
Otak adalah bagian paling penting dalam diri manusia. Karena semua gerakan atau otot-otot yang ada dalam manusia dioperasikan oleh otak. Otak mempunyai bagian yang utama, yaitu otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), dan otak kecil (serebelum).
2. Pengertian Koordinasi dari sudut pandang Anatomi dan Fisiologi
Dari sudut pandang fisiologi, Koordinasi dilihat sebagai pengaturan terhadap proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot diatur melalui sistim persyarafan. Dari definisi ini dapat ditarik suatu pengertian bahwa koordinasi meliputi pengkoordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam pelaksanaan suatu gerakan.
3. Pengertian Koordinasi dari sudut pandang Biomekanik
Pengertian dari sudut pandang biomekanik lebih diarahkan pada penyesuaian antara pemberian implus kekuatan pada ototdengan kebutuhan pada setiap gerakan.
Dari sudut pandang diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa koordinasi adalah hubungan timbal balik antara pusat susunan syaraf dengan alat gerak dalam mengatur dan mengendalikan inplus tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang terjadi untuk pelaksanaan gerakan.
• Macam-macam Koordinasi
Pada dasarnya koordinasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu koordinasi umum dan koordinasi khusus (Bompa,1994:322).
• Koordinasi Umum
Koordinasi umum merupakan kemampuan seluruh tubuh dalam menyesuaikan dan mengatur gerakan secara sim ultan pada saat melakukan suatu gerak. Artinya, bahwa setiap gerak yang dilakukan melibatkan semua atau sebagian besar otot-otot, sistem syaraf, dan persendian. Untuk itu, koordinasi umum ini diperlukan adanya keteraturan gerak dari beberapa anggota badan yang lainnya, agar gerak yang dilakukan dapat harmonis dan efektif sehingga dapat harmonis dan efektif sehingga dapat menguasai keterampilan gerak yang dipelajari. Koordinasi umum merupakan unsur penting dalam penampilan motorik dan menunjukkan tingkat kemampuan yang dimiliki seseorang.
• Koordinasi Khusus
Koordinasi Khusus merupakan koordinasi antar beberapa anggota badan, yaitu kemampuan untuk mengkoordinasikan gerak dari sejumlah anggota badan secara simultan (sage,1984:278). Pada umumnya setiap teknik dalam cabang olahraga merupakan hasil perpaduan antara pandangan mata-tangan (hand eye-coordination) dan kerja kaki (footwork). Koordinasi khusus merupakan pengembangan dari koordinasi umum yang dikombinasikan dengan kemampuan biomotor yang lain sesuai dengan karakteristik cabang olahraga. Ciri-ciri orang yang memiliki koordinasi khusus yang baik dalam menampilkan keterampilan teknik dapat secara harmonis, cepat, mudah, sempurna, tepat, dan luwes.
Koordinasi umum maupun koordinasi khusus keduaduanya sangat diperlukan dalam cabang olahraga sebab keduanya saling berpengaruh terhadap keterampilan gerak seseorang. Dalam sepakbola sebagian besar gerakan dilakukan oleh tungkai dan kaki. Fungsi dari gerakan lengan dan tangan hanya sebatas menjaga keseimbangan pemain sepak bola pada saat berlari, melakukan gerak tipu terhadap lawan pada saat menggiring bola, berbelok, berputar, dan berhenti mendadak. Karena sebagian besar gerakan yang di sepakbola dilakukan oleh tungkai dan kaki, maka koordinasi yang dilatihkan untuk pemain sepakbola adalah koordinasi yang dapat meningkatkan kombinasi gerakan tungkai dan kaki dengan arah pandangan mata, tetapi tanpa mengabaikan ayunan lengan dan tangan. Kombinasi ayunan lengan dan tangan selain membatu dalam keseimbangan juga mendapat membantu dalam pengharmonisan dan keluwesan gerakan. Dengan demikian sasaran utama pada latihan koordinasi adalah untuk meningkatkan kemampuan penguasaan gerak.
• Koordinasi Gerakan
koordinasi gerak dilihat sebagai pengatur terhadap proses-proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui sistem persyarafan atau disebut dangan intra muskulare koordination.
Koordinasi gerak meliputi pengkoordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam suatu pelaksanaan gerakan.pengkoordinasian tersebut diatur sedemikian rupa oleh sistem persyarafan.
Yang diatur disini adalah penyesuaian komponen-komponen kekuatan dan kecepatan yang dibutuhkan oleh otot dalam pelaksanaan gerak sesuai dangan kebutuhan setiap bagian gerak.
• Struktur Dasar Gerakan
Kata struktur diartikan secara sederhana sebagai suatu susunan tertentu maka struktur garak dapat diartikan sebagai strukur gerakan.atau dapat diterjemahkan sebagai susunan dasar dari suatu gerakan atau susunan yang selalu ada dalam pelaksanaan suatu gerakan.
• Irama Gerakan
Iram gerak adalah ciri-ciri yang menggambarkan ketepatan antara pelaksanaan bagian-bagian gerak dengan dimensi ruang dan waktu yang digunakan atau yang diperlukan pada setiap gerakan.
Untuk mendapatkan kemampuan irama gerakan yang baik,pada dasarnya harus dalakukan latihan-latihan secara berulang-ulang terhadap bentuk-bentuk gerakan yang sama.
• Hubungan gerakan
Hubungan gerakan adalah suatu proses transfer impuls tenaga dari suatu bagian tubuh yang lain atau proses transfer impuls dari suatu alat gerak ke alat gerak lain, sehingga terjadi hubungan gerakan.
Indikator yang dapat diamati dari hubungan gerakan yang tidak sempurna adalah
Terjadinya kelebihan gerakan yang tidak diperlukan yang mengakibatkan terganggunya transfer impuls tenaga untuk gerakan. Kelebihan gerakan tersebut diakibatkan oleh impuls tenaga yang diberikan terlalu besar dari yang dibutuhkan.
Luas Gerakan
Luas gerakan adalah luasnya ruangan atau lintasan yang terpakai dalam pelaksanaan suatu gerakan. Indikator-indikator yang dapat diamati untuk mengetahui kesalahan luas gerakan antara lain :
• Pemakaian luas gerakan untuk pelaksanaan suatu gerakan tidak stabil
• Frekwensi gerakan yang terlalu rendah dapat disebabkan karena ruangan yang terpakai untuk pelaksanaan suatu gerakan terlalu luas,sehinggawaktu yang dibutuhkan juga berlebih dari yang semestinya
• Frekwensi gerakan yang terlalu tinggi misalnya dalam berlari atau berenang dapat disebabkan oleh ruangan yang terpakai terlalu sempit
• Irama gerakan tidak konstan
Kelancaran gerakan
Penyebab kesalahan gerakan atau tidak lancarnya gerakan adalah kemampuan kondisi (kekuatan,kecepatan,dan daya tahan) dan kemampuan koordinasi yang masih kurang, serta ketidak lengkapan, ketidak mengertian individu terhadap informasi tentang gerakan yang harus dalaksanakan.
Kelancaran gerakan atau aliran gerakan adalah suatu ciri-ciri yang menggambarkan kontinuitas dari jalannya suatu gerakan. Untuk dapat melihat kelancaran gerakan,indikator yang dapat diamati adalah:
• Kontinuitas jalannya gerakan
• Kecepatan atau percepatan gerakan (terlalu cepat atau terlalu lambat)
• Kecepatan gerakan
Dalam pelaksanan suatu gerakan, kecepatan merupakan salah satu ciri-ciri koordinasi gerakan yang perlu mendapatkan perhatian,hal ini disebabkan karena kecepatan sangat menentukan hasil yang ingin dicapai.
Untuk dapat memanfaatkan kecepatan gerakan secara optimal memang sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti, kemampuan mengantisipasi gerakan,kelancaran gerakan dan hubungan gerakan.
• Ketepatan dan kekonstanan gerakan
Ketepatan dan kekonstanan gerakan sangat menentukan sekali terhadap hasil yang ingin dicapai dalam pelaksanaan gerakan. Ketepatan gerakan dalam artian proses adalah ketepatan jalannya suatu rangkaian gerakan baik dilihat dari struktur dalam gerakan maupun dilihat dari sistematika gerakan.
Sedangkan ketetapan produk adalah suatu hasil yang diperoleh dari aktivfitas atau gerakn.
Menurut MEINEL (1977,HAL 180) mengartikan ketepatan gerakan sebagai ketepatan atau kesatuan antara perencanaan gerakan dengan hasil yang diperoleh. Pengertiannya adalah bahwa setiap pelaksanaan gerakan selalu didahului oleh suatu gerakan yang direncanakan pada pusat susunan syaraf.
• Dasar-dasar Latihan Koordinasi
Karakter umum latihan koordinasi adalah melakukan gerakan beranekaragam dalam satu satuan waktu. Misalnya pada olahraga sepakbola anggota tubuh bagian bawah sangat dominan dalam berbagai gerakan. Untuk anggota tubuh bagian atas yang meliputi lengan dan tangan harus dilatih juga secara seimbang, karena koordinasi itu melibatkan perpaduan berbagai macam gerakan yang terjadi pada bagian tubuh. Berikut akan disajikan petunjuk-petunjuk pengajaran latihan koodinasi mata, tangan, dan kaki.
• Memantulkan bola kesasaran berulang-ulang
Tujuan dari tes tersebut adalah :
• Untuk menilai koordinasi antara mata dengan tangan.
• Untuk mengukur tingkat koordinasi mata dengan tangan dengan basket Wall Voley Test.
Alat dan perlengkapan :
• Papan pantul atau dinding yang rata.
• bola basket
• Stop watch
• Lakban hitam lebar 5cm
• Blangko dan alat tulis
Prosedur pelaksanaan tes :
• Testi berdiri di daerah tendangan dan siap menendang bola. Dengan diberi aba-aba “ya” testi mulai melempar bola sebanyak mungkin, dan harus tepat sasaran. Sebelum melempar kembali bola harus ditangkap dengan tangan terlebih dahulu.
• Setiap melempar bola harus diawali dengan sikap melempar bola yang benar.
• Testi melakukan 2 kali kesempatan melempar bola, masing-masing 30 detik.Tidak boleh menghentikan atau mengontrol bola dengan kaki.
• Sebelum melakukan tes, testi boleh mencoba terlebih dahulu sampai merasa terbiasa.
Penilaian :
Tiap lemparan yang mengenai sasaran memperoleh nilai satu. Untuk memperoleh 1 nilai :
• Bola harus mengenai sasaran.
• Bola harus ditangkap dahulu sebelum dilempar kembali.
• Pada waktu melempar atau menangkap bola testi tidak boleh keluar dari daerah lemparan.
• Bila bola tidak mengenai sasaran, maka testi tidak mendapatkan nilai.
• Nilai total yang diperoleh adalah jumlah nilai lemparan yang terbanyak dari kedua kesempatan melempar bola yang dilakukan testi.
• Menendang bola tepat sasaran secara berulang-ulang
Tujuan dari tes tersebut adalah :
• Untuk menilai koordinasi antara mata dengan kaki
• Untuk mengukur tingkat koordinasi mata dengan kaki dengan Soccer Wall Voley Test
Alat dan perlengkapan :
• Papan pantul atau dinding yang rata.
• bola kaki
• Stop watch
• Kapur
• Blangko dan alat tulis
Pelaksanaan tes :
• Testi berdiri di daerah tendangan dan siap menendang bola.
• Dengan diberi aba-aba “ya” testi mulai menendang bola sebanyak mungkin, boleh menggunakan kaki manapun. Sebelum menendang kembali bola harus di blok atau dikontrol dengan kaki yang lain.
• Setiap menendang bola harus diawali dengan sikap menendang bola yang benar.
• Testi melakukan 2 kali kesempatan menendang bola, masing-masing 30 detik.Tidak boleh menghentikan atau mengontrol bola dengan tangan.
• Sebelum melakukan tes, testi boleh mencoba terlebih dahulu sampai merasa terbiasa.
Penilaian :
Tiap tendangan yang mengenai sasaran memperoleh nilai satu. Untuk memperoleh 1 nilai:
• Bola harus mengenai sasaran.
• Bola harus dikontrol atau diblok dahulu sebelum ditendang kembali.
• Pada waktu menendang atau mengontrol bola testi tidak boleh keluar dari daerah tendangan.
• Bila testi menghentikan atau mengontrol bola dengan tangan, maka nilainya dikurangi 1 (satu)
• Bila bola tidak mengenai sasaran, maka testi tidak mendapatkan nilai.
• Nilai total yang diperoleh adalah jumlah nilai tendangan yang terbanyak dari ketiga kesempatan menendang bola yang dilakukan testi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Koordinasi Adalah perpaduan perilaku dari dua atau lebih persendian, dimana antara yang satu dengan yang lainya saling berkaitan dalam menghasilkan suatu keterampilan gerak. Dan koordinasi dibagi menjadi dua macam yaitu koordinasi umum dan koordinasi khusus.
Adapun pengertian koordinasi dari sudut pandang Anatomi dan Fisiologi yaitu Koordinasi dilihat sebagai pengaturan terhadap proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot diatur melalui sistim persyarafan. Dan dari sudut pandang Biomekanik, koordinasi adalah hubungan timbal balik antara pusat susunan syaraf dengan alat gerak dalam mengatur dan mengendalikan inplus tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang terjadi untuk pelaksanaan gerakan.
Saran
Koordinasi tidak kalah penting dengan komponen fisik lainnya untuk itu perlu adanya pelatihan untuk mengembangkan koordinasi gerak terhadap peserta didik atau atlet oleh pendidik atau pelatih. Kemudian selain memberikan latihan mengenai koordinasi, pendidik atau pelatih juga menjelaskan terlebih dahulu tenatang apa itu koordinasi, bagai mana proses terjadinya koordinasi gerak dan bagai mana cara melatih atau mengembangkan koordinasi agar atlet atau peserta didik mengetahui lebih lanjut tentang koordinasi dan mampu melatih koordinasinya sendiri diluar dari proses pembelajaran atau latihan.
Daftar Pustaka
http://serindingan.blogspot.co.id/2013/10/makalah-kordinasi.html
http://www.pintarbiologi.com/2015/01/sistem-koordinasi-pada-manusia.html
TES DAN PENGUKURAN
(KOORDINASI)
ANDI REZA ISKANDAR (1731042037)
WAHYU HIDAYAT ( 1731042035)
Muh.Gunawan (1731042034)
Muhammad Fahrul Hamid (1731042032)
Kata Pengantar
Puji syikur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Koordinasi”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Belajar Motorik.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semua dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua, amin.
Makassar, 13 Februari 2019
Daftar isi
Kata pengantar...................................................................................................i
Daftar isi............................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
Latar belakang...................................................................................................1
Rumusan Masalah.............................................................................................1
Tujuan................................................................................................................1
Manfaat..............................................................................................................2
BAB II Koordinasi
Hakikat koordinasi............................................................................................3
Macam-macam koordinasi................................................................................6
Koordinasi Gerakan..........................................................................................8
Dasar-dasar latihan koordinasi.........................................................................11
BAB III Penutup
Kesimpulan......................................................................................................14
Saran.................................................................................................................14
Daftar Pustaka...................................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Koordinasi gerak dilihat sebagai pengatur terhadap proses-proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui sistem persyarafan atau disebut dangan intra muskulare koordination.
Koordinasi gerak meliputi peng-koordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam suatu pelaksanaan gerakan. pengkoordinasian tersebut diatur sedemikian rupa oleh sistem persyarafan. Yang diatur disini adalah :penyesuaian komponen-komponen kekuatan dan kecepatan yang dibutuhkan oleh otot dalam pelaksanaan gerak sesuai dangan kebutuhan setiap bagian gerak.
Kebutuhan akan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhaan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksanaannya. Derajat kordinasi yang tinggi ini sangat bermanfaat untuk pekerjaan yang tidak rutin dan tidak dapat diperkirakan, faktor-faktor lingkungan selalu berubah-ubah serta saling ketergantungan adalah tinggi.
Komunikasi adalah kunci koordinasi yang efektif. Koordinasi secara langsung tergantung pada perolehan, penyebaran dan pemprosesan informasi. Semakin besar ketidak pastian tugas yang dikoordinasi, semakin membutuhkan informasi. Untuk alasan ini, koordinasi pada dasarnya merupakan tugas pemprosesan informasi.
Dalam beberapa situasi adalah tidak efisien untuk mengembangkan cara pengkoordinasian tambahan. Ini dapat dilakukan dengan penyediaan tambahan sumber daya-sumber daya untuk satuan-satuan organisasi atau penglompokan kembali satuan-satuan organisasi agar tugas-tugas dapat berdiri sendiri.
Rumusan masalah
1. Jelaskan pengertian koordinasi ?
2. Apa saja macam-macam koordinasi ?
3. Apa yang di maksud koordinasi Gerakan ?
4. Sebutkan Dasar-dasar latihan koordinasi ?
5. Apa saja latihan koordinasi?
Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu koordinasi
2. Untuk mengetahui macam-macam koordinasi
3. Untuk mengetahui koordinasi Gerakan
4. Untuk mengetahui Dasar-dasar latihan koordinasi
5. Untuk mengetahui apa saja latihan koordinasi
Manfaat
1. Agar kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan kordinasi
2. Agar membuat pembaca mengetahui cara melatih dan mengembangkan kordinasi geraknya
BAB II
KOORDINASI
Hakikat Koordinasi
1. Pengertian Koordinasi Menurut para ahli
Koordinasi adalah suatu kemampuan biomotorik yang sangat kompleks (Harsono 1988: 219). Selanjutnya Mochamad Sajoto (1995: 9) koordinasi adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerakan yang berbeda kedalam pola gerakan tunggal secara efektif. Setiap orang untuk dapat melakukan gerakan atau keterampilan baik dari yang mudah, sederhana sampai yang rumit diatur dan diperintah dari sistem syaraf pusat yang sudah disimpan di dalam memori terlebih dahulu. Jadi untuk dapat melakukan gerakan koordinasi yang benar diperlukan juga koordinasi sistem syaraf yang meliputi sistem syaraf pusat dan sistem syaraf tepi dengan otot, tulang, dan sendi.
Menurut Rusli Lutan, dkk (2000: 77), koordinasi adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien dan penuh ketepatan. Koordinasi diperlukan hampir disemua cabang olahraga yang melibatkan kegiatan fisik, koordinasi juga penting bila berada dalam situasi dan lingkungan yang asing, misalnya perubahan lapangan pertandingan, peralatan, cuaca, lampu penerangan, dan lawan yang dihadapi. Tingkatan baik atau tidaknya koordinasi gerak seseorang tercermin dalam kemampuannya untuk melakukan suatu gerakan secara mulus, tepat, cepat, dan efisien. Seorang atlet dengan koordinasi yang baik bukan hanya mampu melakukan suatu keterampilan secara sempurna, akan tetapi juga mudah dan cepat dalam melakukan keterampilan yang masih baru baginya.
Koordinasi yang baik dapat mengubah dan berpindah secara cepat dari pola gerak satu kepola gerak yang lain sehingga gerakannya menjadi efektif. Sedangkan menurut Suharno (1982:110) koordinasi adalah kemampuan seseorang untuk merangkai beberapa unsur gerak menjadi suatu gerakan yang selaras sesuai dengan tujuannya. atau kemampuan menampilkan tugas gerak dengan luwes dan akurat yang seringkali melibatkan perasaan dan serangkaian koordinasi otot yang mempengaruhi gerakan. Menurut Sajoto (1988:59) Koordinasi berasal dari kata coordination adalah kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan gerakan yang berbeda ke dalam suatu pola gerakan tunggal secara efektif. Sedangkan Nossek (1982:89) berpendapat bahwa koordinasi adalah kemampuan untuk memadukan berbagai macam gerakan ke dalam satu atau lebih pola gerak khusus.
Menurut Bompa (2004:43) coordination is a complex motor skill necessary for high performance. Koordinasi merupakan keterampilan motorik yang kompleks yang diperlukan untuk penampilan yang tinggi. Menurut Rusli Lutan (2000:77) koordinasi adalah kemampuan melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat, efisien, dan penuh ketepatan. Menurut Schmidt (1988:265) Koordinasi adalah perpaduan perilaku dari dua atau lebih persendian, dimana antara yang satu dengan yang lainya saling berkaitan dalam menghasilkan suatu keterampilan gerak.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa koordinasi adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang individu dalam memadukan berbagai macam gerak yang berbeda-beda, dengan kesulitan yang berbeda, tetapi dilakukan secara cepat dan tepat.
Mengenai indikator koordinasi, Sukadiyanto (2005: 139) menyatakan bahwa indikator utama koordinasi adalah ketepatan dan gerak yang ekonomis. Dengan demikian koordinasi merupakan hasil perpaduan kinerja dari kualitas otot, tulang, dan persendian dalam menghasilkan gerak yang efektif dan efisien. Dimana komponen gerak yang terdiri dari energi, kontraksi otot, syaraf, tulang dan persendian merupakan koordinasi neuromuskuler. Menurut Sukadiyanto (2005: 139) koordinasi neuromuskuler adalah setiap gerak yang terjadi dalam urutan dan waktu yang tepat serta gerakannya mengandung tenaga.
Koordinasi neuromuskuler meliputi koordinasi intramuskuler dan intermuskuler. Pada koordinasi intramuskuler adalah kinerja dari seluruh serabut syaraf dan otot dalam setiap kerja otot yang berkontraksi secara maksimum. Kinerja otot tergantung dari interaksi serabut syaraf dan serabut otot di dalam
otot itu sendiri. Ciri orang yang memiliki koordinasi intramuskuler baik, dalam melakukan gerak akan serasi, tepat, ekonomis, dan efektif. Sedangkan pada koordinasi intermuskuler melibatkan efektivitas otot-otot yang bekerjasama dalam menampilkan satu gerak (Sukadiyanto, 2005: 139). Sebagai contoh, pemain sepakbola yang bermain di posisi sayap dituntut untuk bisa melakukan crossing (passing atas secara menyilang) sambil berlari cepat atau sprint. Pemain sepakbola yang memiliki koordinasi baik sudah pasti bisa melakukan crossing bola dengan benar, tetapi bagi pemain sepakbola yang memiliki koordinasi buruk akan kesulitan dalam melakukan crossing. Fungsi koordinasi adalah menghasilkan satu pola gerakan yang serasi, berirama dan kompleks maka dari itu fungsi latihan koordinasi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Menurut Suntoro (2006:214), bahwa koordinasi adalah penyesuaian dan pengaturan yang baik. Dari paparan di atas untuk lebih jelas berikut akan dibahas anatomi mata, tangan, dan otak:
Anatomi mata terdiri dari tiga bagian yaitu :
• Lapisan luar, fibrus yang merupakan lapisan penyangga.
• Lapisan tengah, vaskuler.
• Lapisan dalam, lapisan saraf
Mata memiliki banyak fungsi dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya mata membantu seseorang mengambil sesuatu dibantu dengan tangan. Mata akan terasa fungsinya ketika bekerjasama dengan organ lainnya. Tanpa adanya kerja sama dengan organ lain, mata hanya untuk melihat saja tanpa bisa membantu manusia dalam melakukan aktifitas sehari-harinya.
• Anatomi Tangan
Tangan adalah alat gerak sangat membantu manusia dalam menjalankan aktifitas sehari-harinya. Karena aktifitas manusia tidak lepas dari tangan. Tangan adalah anggota badan dari pergelangan tangan sampai ke ujung jari Budiono, (2005:536). Tidak jauh berbeda dengan pernyataan Wikimedia (2009:1) bahwa tangan adalah bagian tubuh di ujung suatu lengan. Sebagian besar manusia. memiliki dua tangan, biasanya dengan empat jari dan satu ibu jari. Bagian dalam tangan adalah telapak tangan.
• Anatomi Otak
Otak adalah bagian paling penting dalam diri manusia. Karena semua gerakan atau otot-otot yang ada dalam manusia dioperasikan oleh otak. Otak mempunyai bagian yang utama, yaitu otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), dan otak kecil (serebelum).
2. Pengertian Koordinasi dari sudut pandang Anatomi dan Fisiologi
Dari sudut pandang fisiologi, Koordinasi dilihat sebagai pengaturan terhadap proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot diatur melalui sistim persyarafan. Dari definisi ini dapat ditarik suatu pengertian bahwa koordinasi meliputi pengkoordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam pelaksanaan suatu gerakan.
3. Pengertian Koordinasi dari sudut pandang Biomekanik
Pengertian dari sudut pandang biomekanik lebih diarahkan pada penyesuaian antara pemberian implus kekuatan pada ototdengan kebutuhan pada setiap gerakan.
Dari sudut pandang diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa koordinasi adalah hubungan timbal balik antara pusat susunan syaraf dengan alat gerak dalam mengatur dan mengendalikan inplus tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang terjadi untuk pelaksanaan gerakan.
• Macam-macam Koordinasi
Pada dasarnya koordinasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu koordinasi umum dan koordinasi khusus (Bompa,1994:322).
• Koordinasi Umum
Koordinasi umum merupakan kemampuan seluruh tubuh dalam menyesuaikan dan mengatur gerakan secara sim ultan pada saat melakukan suatu gerak. Artinya, bahwa setiap gerak yang dilakukan melibatkan semua atau sebagian besar otot-otot, sistem syaraf, dan persendian. Untuk itu, koordinasi umum ini diperlukan adanya keteraturan gerak dari beberapa anggota badan yang lainnya, agar gerak yang dilakukan dapat harmonis dan efektif sehingga dapat harmonis dan efektif sehingga dapat menguasai keterampilan gerak yang dipelajari. Koordinasi umum merupakan unsur penting dalam penampilan motorik dan menunjukkan tingkat kemampuan yang dimiliki seseorang.
• Koordinasi Khusus
Koordinasi Khusus merupakan koordinasi antar beberapa anggota badan, yaitu kemampuan untuk mengkoordinasikan gerak dari sejumlah anggota badan secara simultan (sage,1984:278). Pada umumnya setiap teknik dalam cabang olahraga merupakan hasil perpaduan antara pandangan mata-tangan (hand eye-coordination) dan kerja kaki (footwork). Koordinasi khusus merupakan pengembangan dari koordinasi umum yang dikombinasikan dengan kemampuan biomotor yang lain sesuai dengan karakteristik cabang olahraga. Ciri-ciri orang yang memiliki koordinasi khusus yang baik dalam menampilkan keterampilan teknik dapat secara harmonis, cepat, mudah, sempurna, tepat, dan luwes.
Koordinasi umum maupun koordinasi khusus keduaduanya sangat diperlukan dalam cabang olahraga sebab keduanya saling berpengaruh terhadap keterampilan gerak seseorang. Dalam sepakbola sebagian besar gerakan dilakukan oleh tungkai dan kaki. Fungsi dari gerakan lengan dan tangan hanya sebatas menjaga keseimbangan pemain sepak bola pada saat berlari, melakukan gerak tipu terhadap lawan pada saat menggiring bola, berbelok, berputar, dan berhenti mendadak. Karena sebagian besar gerakan yang di sepakbola dilakukan oleh tungkai dan kaki, maka koordinasi yang dilatihkan untuk pemain sepakbola adalah koordinasi yang dapat meningkatkan kombinasi gerakan tungkai dan kaki dengan arah pandangan mata, tetapi tanpa mengabaikan ayunan lengan dan tangan. Kombinasi ayunan lengan dan tangan selain membatu dalam keseimbangan juga mendapat membantu dalam pengharmonisan dan keluwesan gerakan. Dengan demikian sasaran utama pada latihan koordinasi adalah untuk meningkatkan kemampuan penguasaan gerak.
• Koordinasi Gerakan
koordinasi gerak dilihat sebagai pengatur terhadap proses-proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui sistem persyarafan atau disebut dangan intra muskulare koordination.
Koordinasi gerak meliputi pengkoordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam suatu pelaksanaan gerakan.pengkoordinasian tersebut diatur sedemikian rupa oleh sistem persyarafan.
Yang diatur disini adalah penyesuaian komponen-komponen kekuatan dan kecepatan yang dibutuhkan oleh otot dalam pelaksanaan gerak sesuai dangan kebutuhan setiap bagian gerak.
• Struktur Dasar Gerakan
Kata struktur diartikan secara sederhana sebagai suatu susunan tertentu maka struktur garak dapat diartikan sebagai strukur gerakan.atau dapat diterjemahkan sebagai susunan dasar dari suatu gerakan atau susunan yang selalu ada dalam pelaksanaan suatu gerakan.
• Irama Gerakan
Iram gerak adalah ciri-ciri yang menggambarkan ketepatan antara pelaksanaan bagian-bagian gerak dengan dimensi ruang dan waktu yang digunakan atau yang diperlukan pada setiap gerakan.
Untuk mendapatkan kemampuan irama gerakan yang baik,pada dasarnya harus dalakukan latihan-latihan secara berulang-ulang terhadap bentuk-bentuk gerakan yang sama.
• Hubungan gerakan
Hubungan gerakan adalah suatu proses transfer impuls tenaga dari suatu bagian tubuh yang lain atau proses transfer impuls dari suatu alat gerak ke alat gerak lain, sehingga terjadi hubungan gerakan.
Indikator yang dapat diamati dari hubungan gerakan yang tidak sempurna adalah
Terjadinya kelebihan gerakan yang tidak diperlukan yang mengakibatkan terganggunya transfer impuls tenaga untuk gerakan. Kelebihan gerakan tersebut diakibatkan oleh impuls tenaga yang diberikan terlalu besar dari yang dibutuhkan.
Luas Gerakan
Luas gerakan adalah luasnya ruangan atau lintasan yang terpakai dalam pelaksanaan suatu gerakan. Indikator-indikator yang dapat diamati untuk mengetahui kesalahan luas gerakan antara lain :
• Pemakaian luas gerakan untuk pelaksanaan suatu gerakan tidak stabil
• Frekwensi gerakan yang terlalu rendah dapat disebabkan karena ruangan yang terpakai untuk pelaksanaan suatu gerakan terlalu luas,sehinggawaktu yang dibutuhkan juga berlebih dari yang semestinya
• Frekwensi gerakan yang terlalu tinggi misalnya dalam berlari atau berenang dapat disebabkan oleh ruangan yang terpakai terlalu sempit
• Irama gerakan tidak konstan
Kelancaran gerakan
Penyebab kesalahan gerakan atau tidak lancarnya gerakan adalah kemampuan kondisi (kekuatan,kecepatan,dan daya tahan) dan kemampuan koordinasi yang masih kurang, serta ketidak lengkapan, ketidak mengertian individu terhadap informasi tentang gerakan yang harus dalaksanakan.
Kelancaran gerakan atau aliran gerakan adalah suatu ciri-ciri yang menggambarkan kontinuitas dari jalannya suatu gerakan. Untuk dapat melihat kelancaran gerakan,indikator yang dapat diamati adalah:
• Kontinuitas jalannya gerakan
• Kecepatan atau percepatan gerakan (terlalu cepat atau terlalu lambat)
• Kecepatan gerakan
Dalam pelaksanan suatu gerakan, kecepatan merupakan salah satu ciri-ciri koordinasi gerakan yang perlu mendapatkan perhatian,hal ini disebabkan karena kecepatan sangat menentukan hasil yang ingin dicapai.
Untuk dapat memanfaatkan kecepatan gerakan secara optimal memang sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti, kemampuan mengantisipasi gerakan,kelancaran gerakan dan hubungan gerakan.
• Ketepatan dan kekonstanan gerakan
Ketepatan dan kekonstanan gerakan sangat menentukan sekali terhadap hasil yang ingin dicapai dalam pelaksanaan gerakan. Ketepatan gerakan dalam artian proses adalah ketepatan jalannya suatu rangkaian gerakan baik dilihat dari struktur dalam gerakan maupun dilihat dari sistematika gerakan.
Sedangkan ketetapan produk adalah suatu hasil yang diperoleh dari aktivfitas atau gerakn.
Menurut MEINEL (1977,HAL 180) mengartikan ketepatan gerakan sebagai ketepatan atau kesatuan antara perencanaan gerakan dengan hasil yang diperoleh. Pengertiannya adalah bahwa setiap pelaksanaan gerakan selalu didahului oleh suatu gerakan yang direncanakan pada pusat susunan syaraf.
• Dasar-dasar Latihan Koordinasi
Karakter umum latihan koordinasi adalah melakukan gerakan beranekaragam dalam satu satuan waktu. Misalnya pada olahraga sepakbola anggota tubuh bagian bawah sangat dominan dalam berbagai gerakan. Untuk anggota tubuh bagian atas yang meliputi lengan dan tangan harus dilatih juga secara seimbang, karena koordinasi itu melibatkan perpaduan berbagai macam gerakan yang terjadi pada bagian tubuh. Berikut akan disajikan petunjuk-petunjuk pengajaran latihan koodinasi mata, tangan, dan kaki.
• Memantulkan bola kesasaran berulang-ulang
Tujuan dari tes tersebut adalah :
• Untuk menilai koordinasi antara mata dengan tangan.
• Untuk mengukur tingkat koordinasi mata dengan tangan dengan basket Wall Voley Test.
Alat dan perlengkapan :
• Papan pantul atau dinding yang rata.
• bola basket
• Stop watch
• Lakban hitam lebar 5cm
• Blangko dan alat tulis
Prosedur pelaksanaan tes :
• Testi berdiri di daerah tendangan dan siap menendang bola. Dengan diberi aba-aba “ya” testi mulai melempar bola sebanyak mungkin, dan harus tepat sasaran. Sebelum melempar kembali bola harus ditangkap dengan tangan terlebih dahulu.
• Setiap melempar bola harus diawali dengan sikap melempar bola yang benar.
• Testi melakukan 2 kali kesempatan melempar bola, masing-masing 30 detik.Tidak boleh menghentikan atau mengontrol bola dengan kaki.
• Sebelum melakukan tes, testi boleh mencoba terlebih dahulu sampai merasa terbiasa.
Penilaian :
Tiap lemparan yang mengenai sasaran memperoleh nilai satu. Untuk memperoleh 1 nilai :
• Bola harus mengenai sasaran.
• Bola harus ditangkap dahulu sebelum dilempar kembali.
• Pada waktu melempar atau menangkap bola testi tidak boleh keluar dari daerah lemparan.
• Bila bola tidak mengenai sasaran, maka testi tidak mendapatkan nilai.
• Nilai total yang diperoleh adalah jumlah nilai lemparan yang terbanyak dari kedua kesempatan melempar bola yang dilakukan testi.
• Menendang bola tepat sasaran secara berulang-ulang
Tujuan dari tes tersebut adalah :
• Untuk menilai koordinasi antara mata dengan kaki
• Untuk mengukur tingkat koordinasi mata dengan kaki dengan Soccer Wall Voley Test
Alat dan perlengkapan :
• Papan pantul atau dinding yang rata.
• bola kaki
• Stop watch
• Kapur
• Blangko dan alat tulis
Pelaksanaan tes :
• Testi berdiri di daerah tendangan dan siap menendang bola.
• Dengan diberi aba-aba “ya” testi mulai menendang bola sebanyak mungkin, boleh menggunakan kaki manapun. Sebelum menendang kembali bola harus di blok atau dikontrol dengan kaki yang lain.
• Setiap menendang bola harus diawali dengan sikap menendang bola yang benar.
• Testi melakukan 2 kali kesempatan menendang bola, masing-masing 30 detik.Tidak boleh menghentikan atau mengontrol bola dengan tangan.
• Sebelum melakukan tes, testi boleh mencoba terlebih dahulu sampai merasa terbiasa.
Penilaian :
Tiap tendangan yang mengenai sasaran memperoleh nilai satu. Untuk memperoleh 1 nilai:
• Bola harus mengenai sasaran.
• Bola harus dikontrol atau diblok dahulu sebelum ditendang kembali.
• Pada waktu menendang atau mengontrol bola testi tidak boleh keluar dari daerah tendangan.
• Bila testi menghentikan atau mengontrol bola dengan tangan, maka nilainya dikurangi 1 (satu)
• Bila bola tidak mengenai sasaran, maka testi tidak mendapatkan nilai.
• Nilai total yang diperoleh adalah jumlah nilai tendangan yang terbanyak dari ketiga kesempatan menendang bola yang dilakukan testi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Koordinasi Adalah perpaduan perilaku dari dua atau lebih persendian, dimana antara yang satu dengan yang lainya saling berkaitan dalam menghasilkan suatu keterampilan gerak. Dan koordinasi dibagi menjadi dua macam yaitu koordinasi umum dan koordinasi khusus.
Adapun pengertian koordinasi dari sudut pandang Anatomi dan Fisiologi yaitu Koordinasi dilihat sebagai pengaturan terhadap proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot diatur melalui sistim persyarafan. Dan dari sudut pandang Biomekanik, koordinasi adalah hubungan timbal balik antara pusat susunan syaraf dengan alat gerak dalam mengatur dan mengendalikan inplus tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang terjadi untuk pelaksanaan gerakan.
Saran
Koordinasi tidak kalah penting dengan komponen fisik lainnya untuk itu perlu adanya pelatihan untuk mengembangkan koordinasi gerak terhadap peserta didik atau atlet oleh pendidik atau pelatih. Kemudian selain memberikan latihan mengenai koordinasi, pendidik atau pelatih juga menjelaskan terlebih dahulu tenatang apa itu koordinasi, bagai mana proses terjadinya koordinasi gerak dan bagai mana cara melatih atau mengembangkan koordinasi agar atlet atau peserta didik mengetahui lebih lanjut tentang koordinasi dan mampu melatih koordinasinya sendiri diluar dari proses pembelajaran atau latihan.
Daftar Pustaka
http://serindingan.blogspot.co.id/2013/10/makalah-kordinasi.html
http://www.pintarbiologi.com/2015/01/sistem-koordinasi-pada-manusia.html
TES DAN PENGUKURAN KELOMPOK 5
Kata Pengantar
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahma-Nyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “Kecepatan”. Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon pemakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.
i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………… ii
BAB I Pendahuluan
Latar belakang……………………………………………………………………………… 1
BAB II Pembahasan
1. Pengertian Ketepatan…………………………………………………………………………… 2
2. Faktor-Faktor Yang
3. Mempengaruhi Ketepatan………………………………………………………...… 3
4. ProgramLatihan ……………………………………………………………………..5
5. Tes dan Pengukuran………………………………………………………………….6
BAB III Penutup
6. Kesimpulan …………………………………………………………………………10
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kemajuan yang pesat di bidang olahraga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pengalaman membuktikan bahwa untuk mencapai prestasi yang tinggi tidak cukup hanya dengan berlatih yang teratur, terukur dan terprogram, tetapi harus ditunjang dengan ilmu-ilmu penunjang lainnya. Untuk peningkatan prestasi olahraga sangat membutuhkan kondisi fisik yang prima, misalnya: kelentukan, kekuatan, koordinasi, ketepatan daya tahan dan kelincahan.
Seringkali ketepatan menjadi faktor penentu dalam cabang olahraga seperti nomor-nomor sprint, anggar, tinju dan beberapa cabang olahraga permainan. Karena kecepatan dalam banyak cabang merupakan komponen kondisi fisik yang esensial (Harsono, 1988: 216). Ketepatan dipengaruhi oleh waktu rekasi, sedangkan waktu reaksi tergantung pada proses rangsang indera atau syaraf pendengaran dan syaraf perintah. Misalnya seseorang sedang melakukan start dalam lari sprint, maka waktu reaksi itu adalah waktu mendengarkan aba-aba start sampai gerak pertama yang dilakukan (Sajoto, 1988 : 54-55).
Menurut Fox dan Mathews (1981) yang dikutip oleh Sodarno mengatakan bahwa kira-kira diperlukan waktu 6 detik untuk mencapai ketepatan maksimum dari mulai start diam. Untuk dapat mengalami kecepatan maksimum, seorang pelari hendaknya berlari minimal 50 yard. Sedangkan ketepatan ulangan latihan ketepatan baru dimulai lagi setelah keadaan pulih asal benar (Soedarno, SP, 1982 : 91).
Rumus masalah
• pengertian ketepatan
• faktor faktor yang mempengaruhi ketepatan
• prinsip prinsip melatih ketepatan
• metode melatih ketepatan
• tes dan pengukuran
Tujuan
• Mahasiswa dapat mengetahui pengertian ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui faktor faktor ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui prinsip prinsip melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui metode melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui tes dan pengukuran
Manfaat
• Mahasiswa dapat mengetahui pengertian ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui faktor faktor ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui prinsip prinsip melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui metode melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui tes dan pengukuran
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ketepatan
a) Pengertian
Ketepatan atau biasa disebut dengan accuracy adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengubah gerakan secepat-cepatnya sesuai dengan target atau mengarahkan gerakan ke suatu sasaran sesuai dengan tujuannya. Ketepatan hampir disamakan dengan kecepatan. Ketepatan merupakan salah satu komponen dasar biomotorik yang diperluka disetiap cabang olahraga. Baik aktivitas olahraga permainnan, perlombaan dan yang sebagainya dan juga diperlukan sebagai unsur dasar peningkatan prestasi olahragawan. Beberapa faktor yang menentukan baik tidaknya ketepatan yaitu :Koordinasi tinggi berarti memiliki ketepatan yang tinggi, kolerasinya positif,
Besar dan kecilnya sasaran atau luas dan sempitnya sasaran, Ketajaman indera dan pengaturan syaraf, Jauh dan dekatnya bidang sasaran, Penguasaan teknik yang benar akan mempunyai sumbangan baik terhadap ketepatan mengarahkan gerakan, Cepat atau lambatnya gerakan yang dilakukan, Feeling dari anak didik atau ketelitian, Kuat atau lemahnya suatu gerakan.
Ketepatan memiliki beberapa ciri-ciri seperti berikut :
• Harus ada target tertentu untuk sasaran gerak
• Kecermatan/ketelitian gerak dapat menonjol dalam gerak
• Waktu dan frekuensi gerak tertentu sesuai dengan peraturan
• Adanya suatu penilaian dalam target dan latihan mengarahkan gerakan secara teratur dan terarah.
b) Faktor yang mempengaruhi ketepatan
Faktor yang mempengaruhi ketepatan salah satunya adalah konsentrasi. Konsentrasi adalah pemikiran terhadap pelaksanaan suatu usaha setelah adanya kesiapan dan kematangan bertindak yang dilandasi oleh sifat-sifat kepribadian yang ideal. Dengan berkonsentrasi gerakan yang dihasilkan akan dilakukan secara cepat dan sesuai target,dan pengaruh lainnya yaitu usia, koordinasi, fleksibility, jenis kelamin.
c) Prinsip-prinsip melatih ketepatan
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kemampuan dan prestasi atlet adalah penerapan prinsip-prinsip latihan dalam pelaksanaan program latihan. Agar prestasi dapat meningkat, latihan harus berpedoman pada teori dan prinsip latihan. Tanpa berpedoman pada teori dan prinsip latihan yang benar, latihan sering kali menjurus kemala praktek dan latihan yang tidak sistematis-metodis sehingga peningkatan pretasi sulit dicapai.
Prinsip-prinsip latihan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
• Prinsip pemanasan tubuh atau warming-up
Pemanasan tubuh penting dilakukan sebelum berlatih, bertujuan untuk mempersiapkan fungsi organ tubuh guna menghadapi kegiatan yang lebih berat dalam hal ini adalah penyesuaian terhadap latihan inti.
2
3
• Prinsip beban lebih atau overload principel
Sistem faaliah dalam tubuh pada umumnya mampu untuk menyesuaikan diri dengan beban kerja dan tantangan-tantangan yang lebih berat. Selama beban kerja yang
diterima masih dalam batas-batas kemampuan manusia untuk mengatasinya dan tidak terlalu berat, sehingga menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Jadi beban latihan yang diberikan kepada atlet haruslah cukup berat dan cukup bengis, namun realistis sesuai dengan kemampuan atlet serta harus dilakukan berulang kali dengan intensitas yang tinggi.
• Prinsip sistematis atau sistematic principel
Latihan yang benar adalah latihan yang dimulai dengan kegiatan yang mudah sampai kegiatan yang sulit, atau dari beban yang ringan sampai beban yang berat. Hal ini berkaitan dengan kesiapan fungsi faaliah tubuh yang membutuhkan penyesuaian terhadap beratnya beban yang diberikan dalam latihan. Dengan berlatih secara sistematis dan dilakukan berulang-ulang yang konstan, maka organisasi-organisasi sistem persyarafan dan fisiologis yang akan menjadi bertambah baik, gerakan yang semula sukar akan menjadi gerakan yang otomatis dan reflektif.
• Prinsip intensitas atau intencity principle
Perubahan fungsi fisiologis yang positif hanyalah mungkin apabila atlet dilatih melalui suatu program latihan yang intensif yang dilandaskan pada prinsip overload dimana secara progresif menambah beban kerja, jumlah pengulangan serta intensitas dari pengulangan tersebut.
• Prinsip pulih asal (recovery principle)
Dalam hal ini atlet perlu mengembalikan kondisinya dari kelelahan akibat latihan melalui istirahat.
• Prinsip variasi latihan
Latihan dalam jangka waktu yang lama sering menimbulkan kejenuhan bagi atlet, apalagi program latihan yang dilaksanakan bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, latihan harus dilaksanakan melalui berbagai macam variasi sehingga beban latihan terasa ringan dan menggembirakan.
• Prinsip perkembangan multilateral
• Prinsip ini menganjurkan agar anak usia dini jangan terlalu cepat dispesialisasikan pada satu cabang olahraga tertentu. Dalam hal ini sebaiknya anak diberikan kebebasan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas olahraga agar iya bisa mengembangkan dirinya secara multilateral baik dalam aspek fisik, mental maupun sosialnya.Prinsip individualisasi
• Agar latihan bisa menghasilkan yang terbaik, prinsip individualisasi harus senantiasa diterapkan dalam latihan. Artinya beban latihan harus disesuaikan dengan kemampuan adaptasi, potensi serta karakteristik spesifik dari atlet.Prinsip spesifik
Prinsip ini mengisyaratkan bahwa latihan ini harus spesifik, yaitu harus benar-benar melatih apa yang dilatih. Manfaat maksimal yang bisa diperoleh dari rangsangan latihan hanya akan terjadi manakal rangsangan tersebut mirib atau merupakan replikasi dari gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga tersebut.
4
d) Metode Melatih Ketepatan
Cara - cara melatih ketepatan dalam olahraga sebagai berikut : Untuk olahraga voly, latihan dengan menggunakan metode sasaran tetap yaitu metode atau cara melatih ketepatan dengan menggunakan sasaran yang sama secara terus menerus dan tidak mengubah sasaran satu set dapat diselesaikan yang ditentukan oleh pelatih. Latihan ketepatan dalam permainan ini seperti latihan servis lompat, dengan metode sasaran berubah arah dengan menggunakan sasaran berubah-ubah dalam setiap satu setnya dengan sesuai keinginan pemain. (gunawan. 2012 : hal 98)
5
Program Latihan
Selama kegiatan Pelatda panahan, periodisasi latihan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Artinya, tahap persiapan umum maupun persiapan khusus di abaikan, sehingga periodisasi langsung diterapkan pada periode kompetisi. Pada periode dibagi menjadi dua tahapan, yaitu periodisasi pra kompetisi dan periodisasi kompetisi.
Pra Kompetisi
Adapun materi latihan yang diberikan selama periode pra kompetisi, adalah sebagai berikut:
Bentuk latihan sudah khusus pada pertandingan panahan baik dari sisi macam gerak teknik dan predominan energi yang digunakan. Artinya, sama dengan situasi pada periode kompetisi (kecuali pada intensitas dan volume latihan).
b. Tujuan latihan pada periode awal kompetisi adalah bentuk aplikasi kemampuan tanding melalui simulasi dan uji coba, pemeliharaan kebugaran otot, dan kebugaran energi dengan latihan yang khusus panahan. Selama simulasi, pelatih memberikan umpan balik dan penekanan terhadap semua teknik dan taktik yang telah dilakukan.
c. Sesi latihan disusun sesuai dengan situsi bertanding. Artinya, perbandingan antara waktu bermain dan istirahat harus sama dengan situasi sesungguhnya. Untuk itu, latihan lebih menekankan pada kemampuan psikologis pemanah.
d. Bentuk latihan menggunakan drill teknik. Artinya, setiap teknik yang dilakukan harus memiliki target perolehan angka (nilai). Sebagai parameter , bila teknik yang dipakai selalu menghasilkan angka 9 dan 10, maka tingkat produktivitas teknik sudah tinggi.
e. Sasaran kebugaran otot mengutamakan pada kekuatan dan daya tahan otot, sasaran untuk kebugaran energi adalah daya tahan paru-jantung dan keseimbangan.
f. Menu latihan menggunakan bentuk sparing perorangan dan beregu serta drill teknik. Perbandingan antara waktu kerja dan istirahat harus sama seperti bertanding.
6 g. Kompetisi Umum
Pada periode utama kondisi pemanah sudah mencapai puncak dan kesempurnaan baik fisik, teknik, dan taktik. Dengan demikian, secara fisik, teknik., taktik, dan mental pemanah sudah siap untuk bertanding. Tujuan latihan pada periode kompetisi adalah untuk menjaga agar pemanah tetap memiliki semangat juang yang tinggi, dan tetap pada kondisi puncak. Adapun materi latihan yang diberikan selama periode kompetisi utama, adalah sebagai berikut:
Bentuk latihan untuk kebugaran otot dengan latihan push up, back-up, sit up dan latihan beban (weight training).
Sasaran latihan kebugaran energi adalah daya tahan paru jantung dengan latihan lari.
6
TES DAN PENGUKURAN DALAM OLAHRAGA
A. PENGERTIAN TES DAN PENGUKURAN
Tes dan pengukuran dapat kita definisikan seperti berikut :
TES : Suatu instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang seseorang / suatu obyek tertentuk (bentuk atau sasaran)
PENGUKURAN : Suatu proses untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku. (alatnya)
Jadi dapat kita simpulkan bahwa tes dan pengukuran olahraga adalah kumpulan informasi dari dari sesuatu yang diukur, hasilnya hanyalah data-data atau angka-angka hasil pengukuran dan hasil penguukran ini dilakukan untuk evaluasi atau untuk mengembangkan prestasi olehraga.”
JENIS TES DAN CARA PENGUKURANNYA
1.TES KEKUATAN OTOT LENGAN
• Nama : Tes Pengukuran Otot Lengan
• Jenis : Push-Up (Floor and Modified) dari Ismayati (2006:123)
• Alat/ fasilitas : matras/ lantai yang rata, blangko dan alat tulis
• Petugas : seorang pemandu tes, tiga orang penghitung gerakan, seorang pencatat skor.
• Pelaksanaan :
- tes mengambil posisi tengkurap, tangan lurus membuka selebar bahu, berat badan di sangga lengan
-turunkan badan sampai dada menyentuh matras/lantai kemudian di dorong kembali ke atas sampai posisi semula (1 hitungan)
lakukan sebanyak mungkin tanpa di selingi istirahat dengan waktu 1 menit.
• Penilaian :
hitunglah jumlah gerakan yang dapat di lakukan dengan benar tanpa istirahat
gerakan tidak di hitung apabila:
1. dada tidak menyentuh lantai
2. pada saat mendorong ke atas lengan tidak lurus
3. badan tidak lurus (melengkung)
7
2. TES POWER OTOT LENGAN DAN BAHU
• tujuan
untuk mengukur power otot lengan dan bahu (Barry L. Johnson dan Jack Nelson (1986: 135)
• alat/ fasilitas
1 bola medicine dengan berat (6 Pound), roll meter, kursi bendera kecil, formulir dan alat tulis)
• tester
1 orang timers, 1 orang pencatat hasil, 1 orang pengawas
• pelaksanaan
sikap awal teste duduk di bangku dengan di ikat badannyadi belakang garis batas, gerakannya dengan mengerahkan sekuat tenaga yang ada. Teste berusaha melemparkan bola basket sejauh mungkin ke depan gerakan ini di lakukan sebanyak 3 kali.
• pencatat
hasil yang di catat adalah jarak lemparan sejauh yang capai di ukur mulai dari garis batas sampai bekas jatuhnya bola.
3.TES LEMPAR TANGKAP BOLA TENIS
• Nama tes : tes lempar tangkap bola tenis (Kirkendall: 1987:412)
• Tujuan : mengukur koordinasi mata-tangan.
• Alat/ fasilitas :
Bola tenis, kapur atau pita untuk membuat batas, sasaran berbentuk lingkaran terbuat dari kertas dengan garis tengah 30 cm, meteran dengan tingkat ketelitian 1 cm.
• Pelaksanaan
Sasaran ditempatkan ditembok setinggi bahu peserta tes. Peserta berdiri dibelakang garis batas lemparan sejauh 2,5 meter. Peserta tes diberi kesempatan untuk melempar bola ke arah sasaran dan menangkap bola kembali sebanyak 10 kali ulangan, dengan menggunakan salah satu tangan. Peserta diberikan lagi kesempatan untuk melakukan lempar tangkap bola dengan menggunakan salah satu tangan dan ditangkap oleh tangan yang berbeda sebanyak 10 kali ulangan. Setiap peserta diberi kesempatan untuk melakukan percobaan.
• Skor
Skor yang dihitung adalah lemparan yang sah, yaitu lemparan yang mengenai sasaran dan dapat ditangkap kembali, serta pada pelaksanaan lempar dan tangkap bola peserta tidak menginjak garis batas. Sebuah lemparan akan memperoleh skor 1 apabila lemparan tersebut mengenai sasaran dan dapat ditangkap kembali dengan benar. jumlah skor adalah keseluruhan hasil lempar tangkap bola dengan tangan yang. sama dan tangan berbeda.
8
4.TES KETEPATAN
• nama : tes persepsi kinestetik (Sudjarwo 1989: 195)
• tujuan : mengukur kemampuan kinestetik dalam menentukan posisi tertentu pada bidang horizontal
• alat/fasilitas : meteran, penutup mata, pensil
• pelaksanaan :
di buat garis vertikal pada dinding setinggi mata rata-rata testi pada posisi duduk. Testi berkosentrasi pada garis lurus pada ujung ke ujung, kemudian mencoba sekali menunjuk ujung garis atas dan berpindah menunjuk ujung yang lainnya, setelah mencoba sekali tutut mata dan melakukan tes yang sebenarnya. Testi di minta menunjuk pada kedua titik tersebut testi melakukan 4 kali ulangan 2 kali titik sebelah kiri dan 2 kali titik sebelah kanan.
• penilaian : Penyimpangan dari titik yang di tentukan di ukur dalam (cm) sampai 0,5cm terdekat, nilainya yaitu 4 kali jumlah ulangan..
5.TES KESEIMBANGAN DINAMIS
• Nama tes : Dinamic Balance Tes. (Barry L. Johnson dan Javk Nelson 1985:242)
• Tujuan : Mengatur Keseimbangan Dinamis
• Alat/ Fasilitas : Stopwatch, Balok, Isolasi, Alat tulis, dan Blangko penilaian.
• Pelaksanaan :
Teste berdiri dengan kaki kanan di atas tanda start, teste mulai meloncat dengan satu kaki dan mendarat dengan kaki yang sama pertahankan keseimbangan selama 5 detik, kemudian teste meloncat ke tanda yang ke dua dengan kaki kanan dan mendarat dengan kaki kiri yang sama pertahankan selama 5 detik, kerjakan sampai tanda berakhir.
• Skor
Nilai 5 di berikan bila hasil mendarat pada satu tanda nilai 1 untuk setiap detik keberhasilan mempertahankan keseimbangan (MAX 5 DETIK UNTUK SETIAP TANDA).
nilai 5 di berikan untuk tiap terjadi kesalahan pendarata atau tidak mampu mempertahankan keseimbangan.
Kemungkinan nilai yang di capai 100.
9
Manfaat Ketepatan
Ketepatan ialah kemampuan seseorang untuk mengarahkan sesuatu gerak ke suatu sasaran dengan tujuannya. Menurut Sanjoto yang dikutip oleh Soleh (2007: 6), bahwa ketepatan adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran.Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang untuk mencapai target yang diinginkan. Menurut Poerwadarminto (1979: 1055), ketepatan dapat diartikan sebagai ketelitian atau kejutan. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 59), ketepatan adalah kemampuan dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran. Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang untuk mencapai target yangdiinginkan.
Jadi ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk menentukan dan mengubah arah bola dengan tepat dan cepat, pada waktu bola sedang bergerak tanpa kehilangan arah sehingga penempatan bola dan tujuan jatuhnya bola yang diharapkan. Sehingga kita mudah untuk menentukan target sasaran dalam servis atas bola voli dan bisa dengan mudah untuk mendapatkan point.
Tujuan Ketepatan
Latihan juga dapat mempengaruhi kemampuan ketepatan seseorang. Menurut Suharno HP (1992: 56), ciri-ciri latihan untuk ketepatan antara lain: “1) harus ada sasaran yang dituju gerakan tersebut, 2) kecermatan atau ketelitian dalam melakukan gerakan, 3) waktu pelaksanaan tertentu sesuai dengan peraturan, 4) adanya suatu evaluasi atau penilaian dalam latihan”. Jadi dalam latihan untuk meningkatkan ketepatan servis harus ada sasaran yang digunakan, dan disini sasaran yang digunakan adalah lapangan yang dibagi dengan garis dan di daerah yang dibagi tersebut diberi nilai atau skor untuk menilai kemampuan servis dari siswa. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 59), ketepatan adalah kemampuan dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran. Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang untuk mencapai target yang diinginkan. Ketepatan berhubungan dengan keinginan untuk memberikan arah kepada sasaran dengan maksud dan tujuan tertentu.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan ketepatan servis atas dapat dilatih dengan cara-cara yang telah diutarakan diatas. Agar baik dalam menempatkan bola ke daerah lawan yang sulit dijangkau lawan atau pemain yang memiliki kemampuan servis yang lemah sehingga akan menghasilkan poin bagi regunya. Jadi ketepatan sangat besar pengaruhnya untuk memperoleh poin dengan menentukan target sasarannya. Karena ketepatan melempar adalah kemampuan seseorang melakukan lemparan menuju sasaran yang dilihat dan mengenai sasaran tersebut pada jarak lempar tertentu.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
• Ketepatan atau biasa disebut dengan accuracy adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengubah gerakan secepat-cepatnya sesuai dengan target atau mengarahkan gerakan ke suatu sasaran sesuai dengan tujuannya. Ketepatan hampir disamakan dengan kecepatan. Ketepatan merupakan salah satu komponen dasar biomotorik yang diperluka disetiap cabang olahraga
• Faktor yang mempengaruhi ketepatan salah satunya adalah konsentrasi. Konsentrasi adalah pemikiran terhadap pelaksanaan suatu usaha setelah adanya kesiapan dan kematangan bertindak yang dilandasi oleh sifat-sifat kepribadian yang ideal.
• Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kemampuan dan prestasi atlet adalah penerapan prinsip-prinsip latihan dalam pelaksanaan program latihan. Agar prestasi dapat meningkat, latihan harus berpedoman pada teori dan prinsip latihan
• Cara - cara melatih ketepatan dalam olahraga sebagai berikut : Untuk olahraga voly, latihan dengan menggunakan metode sasaran tetap yaitu metode atau cara melatih ketepatan dengan menggunakan sasaran yang sama secara terus menerus dan tidak mengubah sasaran satu set dapat diselesaikan yang ditentukan oleh pelatih. Latihan ketepatan dalam permainan ini seperti latihan servis lompat, dengan metode sasaran berubah arah dengan menggunakan sasaran berubah-ubah dalam setiap satu setnya dengan sesuai keinginan pemain. (gunawan. 2012 : hal 98)
SARAN
Sebagai seorang mahasiswa olahraga, perlu sekali mempelajari dan memahami tentang ketetpatan karena seorang mahasiswa olaragah itu selalu dibebankan dan berkelut dengan ilmu-ilmu olahraga.
10
DAFTAR PUSTAKA
Suharno, H. P. 1981. Metodik Melatih Permainan Bolavoli. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Soleh Hartadi. 2007. Kontribusi Kekuatan Otot Lengan dan Koordinasi Mata Tangan dengan Ketepatan Servis Atlet Bolavoli Yunior di Klub Bolavoli Yuso Yogyakarta. Skripsi.
Sukadiyanto. (2002). Teori Dan Metodologi Melatih Fisik Tenis.Yogyakarta: FIK UNY.
Sajoto.1988.Penguatan dan Pembinaan Kondisi Fisik. Semarang: IKIP Semarang.
Poerwodarminto. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Nossek, J. (1982). General Theory of Training. National Institut For Sports, Pan African Press Ltd, Lagos.
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahma-Nyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “Kecepatan”. Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon pemakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.
i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………… ii
BAB I Pendahuluan
Latar belakang……………………………………………………………………………… 1
BAB II Pembahasan
1. Pengertian Ketepatan…………………………………………………………………………… 2
2. Faktor-Faktor Yang
3. Mempengaruhi Ketepatan………………………………………………………...… 3
4. ProgramLatihan ……………………………………………………………………..5
5. Tes dan Pengukuran………………………………………………………………….6
BAB III Penutup
6. Kesimpulan …………………………………………………………………………10
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kemajuan yang pesat di bidang olahraga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pengalaman membuktikan bahwa untuk mencapai prestasi yang tinggi tidak cukup hanya dengan berlatih yang teratur, terukur dan terprogram, tetapi harus ditunjang dengan ilmu-ilmu penunjang lainnya. Untuk peningkatan prestasi olahraga sangat membutuhkan kondisi fisik yang prima, misalnya: kelentukan, kekuatan, koordinasi, ketepatan daya tahan dan kelincahan.
Seringkali ketepatan menjadi faktor penentu dalam cabang olahraga seperti nomor-nomor sprint, anggar, tinju dan beberapa cabang olahraga permainan. Karena kecepatan dalam banyak cabang merupakan komponen kondisi fisik yang esensial (Harsono, 1988: 216). Ketepatan dipengaruhi oleh waktu rekasi, sedangkan waktu reaksi tergantung pada proses rangsang indera atau syaraf pendengaran dan syaraf perintah. Misalnya seseorang sedang melakukan start dalam lari sprint, maka waktu reaksi itu adalah waktu mendengarkan aba-aba start sampai gerak pertama yang dilakukan (Sajoto, 1988 : 54-55).
Menurut Fox dan Mathews (1981) yang dikutip oleh Sodarno mengatakan bahwa kira-kira diperlukan waktu 6 detik untuk mencapai ketepatan maksimum dari mulai start diam. Untuk dapat mengalami kecepatan maksimum, seorang pelari hendaknya berlari minimal 50 yard. Sedangkan ketepatan ulangan latihan ketepatan baru dimulai lagi setelah keadaan pulih asal benar (Soedarno, SP, 1982 : 91).
Rumus masalah
• pengertian ketepatan
• faktor faktor yang mempengaruhi ketepatan
• prinsip prinsip melatih ketepatan
• metode melatih ketepatan
• tes dan pengukuran
Tujuan
• Mahasiswa dapat mengetahui pengertian ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui faktor faktor ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui prinsip prinsip melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui metode melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui tes dan pengukuran
Manfaat
• Mahasiswa dapat mengetahui pengertian ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui faktor faktor ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui prinsip prinsip melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui metode melatih ketepatan
• Mahasiswa dapat mengetahui tes dan pengukuran
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ketepatan
a) Pengertian
Ketepatan atau biasa disebut dengan accuracy adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengubah gerakan secepat-cepatnya sesuai dengan target atau mengarahkan gerakan ke suatu sasaran sesuai dengan tujuannya. Ketepatan hampir disamakan dengan kecepatan. Ketepatan merupakan salah satu komponen dasar biomotorik yang diperluka disetiap cabang olahraga. Baik aktivitas olahraga permainnan, perlombaan dan yang sebagainya dan juga diperlukan sebagai unsur dasar peningkatan prestasi olahragawan. Beberapa faktor yang menentukan baik tidaknya ketepatan yaitu :Koordinasi tinggi berarti memiliki ketepatan yang tinggi, kolerasinya positif,
Besar dan kecilnya sasaran atau luas dan sempitnya sasaran, Ketajaman indera dan pengaturan syaraf, Jauh dan dekatnya bidang sasaran, Penguasaan teknik yang benar akan mempunyai sumbangan baik terhadap ketepatan mengarahkan gerakan, Cepat atau lambatnya gerakan yang dilakukan, Feeling dari anak didik atau ketelitian, Kuat atau lemahnya suatu gerakan.
Ketepatan memiliki beberapa ciri-ciri seperti berikut :
• Harus ada target tertentu untuk sasaran gerak
• Kecermatan/ketelitian gerak dapat menonjol dalam gerak
• Waktu dan frekuensi gerak tertentu sesuai dengan peraturan
• Adanya suatu penilaian dalam target dan latihan mengarahkan gerakan secara teratur dan terarah.
b) Faktor yang mempengaruhi ketepatan
Faktor yang mempengaruhi ketepatan salah satunya adalah konsentrasi. Konsentrasi adalah pemikiran terhadap pelaksanaan suatu usaha setelah adanya kesiapan dan kematangan bertindak yang dilandasi oleh sifat-sifat kepribadian yang ideal. Dengan berkonsentrasi gerakan yang dihasilkan akan dilakukan secara cepat dan sesuai target,dan pengaruh lainnya yaitu usia, koordinasi, fleksibility, jenis kelamin.
c) Prinsip-prinsip melatih ketepatan
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kemampuan dan prestasi atlet adalah penerapan prinsip-prinsip latihan dalam pelaksanaan program latihan. Agar prestasi dapat meningkat, latihan harus berpedoman pada teori dan prinsip latihan. Tanpa berpedoman pada teori dan prinsip latihan yang benar, latihan sering kali menjurus kemala praktek dan latihan yang tidak sistematis-metodis sehingga peningkatan pretasi sulit dicapai.
Prinsip-prinsip latihan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
• Prinsip pemanasan tubuh atau warming-up
Pemanasan tubuh penting dilakukan sebelum berlatih, bertujuan untuk mempersiapkan fungsi organ tubuh guna menghadapi kegiatan yang lebih berat dalam hal ini adalah penyesuaian terhadap latihan inti.
2
3
• Prinsip beban lebih atau overload principel
Sistem faaliah dalam tubuh pada umumnya mampu untuk menyesuaikan diri dengan beban kerja dan tantangan-tantangan yang lebih berat. Selama beban kerja yang
diterima masih dalam batas-batas kemampuan manusia untuk mengatasinya dan tidak terlalu berat, sehingga menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Jadi beban latihan yang diberikan kepada atlet haruslah cukup berat dan cukup bengis, namun realistis sesuai dengan kemampuan atlet serta harus dilakukan berulang kali dengan intensitas yang tinggi.
• Prinsip sistematis atau sistematic principel
Latihan yang benar adalah latihan yang dimulai dengan kegiatan yang mudah sampai kegiatan yang sulit, atau dari beban yang ringan sampai beban yang berat. Hal ini berkaitan dengan kesiapan fungsi faaliah tubuh yang membutuhkan penyesuaian terhadap beratnya beban yang diberikan dalam latihan. Dengan berlatih secara sistematis dan dilakukan berulang-ulang yang konstan, maka organisasi-organisasi sistem persyarafan dan fisiologis yang akan menjadi bertambah baik, gerakan yang semula sukar akan menjadi gerakan yang otomatis dan reflektif.
• Prinsip intensitas atau intencity principle
Perubahan fungsi fisiologis yang positif hanyalah mungkin apabila atlet dilatih melalui suatu program latihan yang intensif yang dilandaskan pada prinsip overload dimana secara progresif menambah beban kerja, jumlah pengulangan serta intensitas dari pengulangan tersebut.
• Prinsip pulih asal (recovery principle)
Dalam hal ini atlet perlu mengembalikan kondisinya dari kelelahan akibat latihan melalui istirahat.
• Prinsip variasi latihan
Latihan dalam jangka waktu yang lama sering menimbulkan kejenuhan bagi atlet, apalagi program latihan yang dilaksanakan bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, latihan harus dilaksanakan melalui berbagai macam variasi sehingga beban latihan terasa ringan dan menggembirakan.
• Prinsip perkembangan multilateral
• Prinsip ini menganjurkan agar anak usia dini jangan terlalu cepat dispesialisasikan pada satu cabang olahraga tertentu. Dalam hal ini sebaiknya anak diberikan kebebasan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas olahraga agar iya bisa mengembangkan dirinya secara multilateral baik dalam aspek fisik, mental maupun sosialnya.Prinsip individualisasi
• Agar latihan bisa menghasilkan yang terbaik, prinsip individualisasi harus senantiasa diterapkan dalam latihan. Artinya beban latihan harus disesuaikan dengan kemampuan adaptasi, potensi serta karakteristik spesifik dari atlet.Prinsip spesifik
Prinsip ini mengisyaratkan bahwa latihan ini harus spesifik, yaitu harus benar-benar melatih apa yang dilatih. Manfaat maksimal yang bisa diperoleh dari rangsangan latihan hanya akan terjadi manakal rangsangan tersebut mirib atau merupakan replikasi dari gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga tersebut.
4
d) Metode Melatih Ketepatan
Cara - cara melatih ketepatan dalam olahraga sebagai berikut : Untuk olahraga voly, latihan dengan menggunakan metode sasaran tetap yaitu metode atau cara melatih ketepatan dengan menggunakan sasaran yang sama secara terus menerus dan tidak mengubah sasaran satu set dapat diselesaikan yang ditentukan oleh pelatih. Latihan ketepatan dalam permainan ini seperti latihan servis lompat, dengan metode sasaran berubah arah dengan menggunakan sasaran berubah-ubah dalam setiap satu setnya dengan sesuai keinginan pemain. (gunawan. 2012 : hal 98)
5
Program Latihan
Selama kegiatan Pelatda panahan, periodisasi latihan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Artinya, tahap persiapan umum maupun persiapan khusus di abaikan, sehingga periodisasi langsung diterapkan pada periode kompetisi. Pada periode dibagi menjadi dua tahapan, yaitu periodisasi pra kompetisi dan periodisasi kompetisi.
Pra Kompetisi
Adapun materi latihan yang diberikan selama periode pra kompetisi, adalah sebagai berikut:
Bentuk latihan sudah khusus pada pertandingan panahan baik dari sisi macam gerak teknik dan predominan energi yang digunakan. Artinya, sama dengan situasi pada periode kompetisi (kecuali pada intensitas dan volume latihan).
b. Tujuan latihan pada periode awal kompetisi adalah bentuk aplikasi kemampuan tanding melalui simulasi dan uji coba, pemeliharaan kebugaran otot, dan kebugaran energi dengan latihan yang khusus panahan. Selama simulasi, pelatih memberikan umpan balik dan penekanan terhadap semua teknik dan taktik yang telah dilakukan.
c. Sesi latihan disusun sesuai dengan situsi bertanding. Artinya, perbandingan antara waktu bermain dan istirahat harus sama dengan situasi sesungguhnya. Untuk itu, latihan lebih menekankan pada kemampuan psikologis pemanah.
d. Bentuk latihan menggunakan drill teknik. Artinya, setiap teknik yang dilakukan harus memiliki target perolehan angka (nilai). Sebagai parameter , bila teknik yang dipakai selalu menghasilkan angka 9 dan 10, maka tingkat produktivitas teknik sudah tinggi.
e. Sasaran kebugaran otot mengutamakan pada kekuatan dan daya tahan otot, sasaran untuk kebugaran energi adalah daya tahan paru-jantung dan keseimbangan.
f. Menu latihan menggunakan bentuk sparing perorangan dan beregu serta drill teknik. Perbandingan antara waktu kerja dan istirahat harus sama seperti bertanding.
6 g. Kompetisi Umum
Pada periode utama kondisi pemanah sudah mencapai puncak dan kesempurnaan baik fisik, teknik, dan taktik. Dengan demikian, secara fisik, teknik., taktik, dan mental pemanah sudah siap untuk bertanding. Tujuan latihan pada periode kompetisi adalah untuk menjaga agar pemanah tetap memiliki semangat juang yang tinggi, dan tetap pada kondisi puncak. Adapun materi latihan yang diberikan selama periode kompetisi utama, adalah sebagai berikut:
Bentuk latihan untuk kebugaran otot dengan latihan push up, back-up, sit up dan latihan beban (weight training).
Sasaran latihan kebugaran energi adalah daya tahan paru jantung dengan latihan lari.
6
TES DAN PENGUKURAN DALAM OLAHRAGA
A. PENGERTIAN TES DAN PENGUKURAN
Tes dan pengukuran dapat kita definisikan seperti berikut :
TES : Suatu instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang seseorang / suatu obyek tertentuk (bentuk atau sasaran)
PENGUKURAN : Suatu proses untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku. (alatnya)
Jadi dapat kita simpulkan bahwa tes dan pengukuran olahraga adalah kumpulan informasi dari dari sesuatu yang diukur, hasilnya hanyalah data-data atau angka-angka hasil pengukuran dan hasil penguukran ini dilakukan untuk evaluasi atau untuk mengembangkan prestasi olehraga.”
JENIS TES DAN CARA PENGUKURANNYA
1.TES KEKUATAN OTOT LENGAN
• Nama : Tes Pengukuran Otot Lengan
• Jenis : Push-Up (Floor and Modified) dari Ismayati (2006:123)
• Alat/ fasilitas : matras/ lantai yang rata, blangko dan alat tulis
• Petugas : seorang pemandu tes, tiga orang penghitung gerakan, seorang pencatat skor.
• Pelaksanaan :
- tes mengambil posisi tengkurap, tangan lurus membuka selebar bahu, berat badan di sangga lengan
-turunkan badan sampai dada menyentuh matras/lantai kemudian di dorong kembali ke atas sampai posisi semula (1 hitungan)
lakukan sebanyak mungkin tanpa di selingi istirahat dengan waktu 1 menit.
• Penilaian :
hitunglah jumlah gerakan yang dapat di lakukan dengan benar tanpa istirahat
gerakan tidak di hitung apabila:
1. dada tidak menyentuh lantai
2. pada saat mendorong ke atas lengan tidak lurus
3. badan tidak lurus (melengkung)
7
2. TES POWER OTOT LENGAN DAN BAHU
• tujuan
untuk mengukur power otot lengan dan bahu (Barry L. Johnson dan Jack Nelson (1986: 135)
• alat/ fasilitas
1 bola medicine dengan berat (6 Pound), roll meter, kursi bendera kecil, formulir dan alat tulis)
• tester
1 orang timers, 1 orang pencatat hasil, 1 orang pengawas
• pelaksanaan
sikap awal teste duduk di bangku dengan di ikat badannyadi belakang garis batas, gerakannya dengan mengerahkan sekuat tenaga yang ada. Teste berusaha melemparkan bola basket sejauh mungkin ke depan gerakan ini di lakukan sebanyak 3 kali.
• pencatat
hasil yang di catat adalah jarak lemparan sejauh yang capai di ukur mulai dari garis batas sampai bekas jatuhnya bola.
3.TES LEMPAR TANGKAP BOLA TENIS
• Nama tes : tes lempar tangkap bola tenis (Kirkendall: 1987:412)
• Tujuan : mengukur koordinasi mata-tangan.
• Alat/ fasilitas :
Bola tenis, kapur atau pita untuk membuat batas, sasaran berbentuk lingkaran terbuat dari kertas dengan garis tengah 30 cm, meteran dengan tingkat ketelitian 1 cm.
• Pelaksanaan
Sasaran ditempatkan ditembok setinggi bahu peserta tes. Peserta berdiri dibelakang garis batas lemparan sejauh 2,5 meter. Peserta tes diberi kesempatan untuk melempar bola ke arah sasaran dan menangkap bola kembali sebanyak 10 kali ulangan, dengan menggunakan salah satu tangan. Peserta diberikan lagi kesempatan untuk melakukan lempar tangkap bola dengan menggunakan salah satu tangan dan ditangkap oleh tangan yang berbeda sebanyak 10 kali ulangan. Setiap peserta diberi kesempatan untuk melakukan percobaan.
• Skor
Skor yang dihitung adalah lemparan yang sah, yaitu lemparan yang mengenai sasaran dan dapat ditangkap kembali, serta pada pelaksanaan lempar dan tangkap bola peserta tidak menginjak garis batas. Sebuah lemparan akan memperoleh skor 1 apabila lemparan tersebut mengenai sasaran dan dapat ditangkap kembali dengan benar. jumlah skor adalah keseluruhan hasil lempar tangkap bola dengan tangan yang. sama dan tangan berbeda.
8
4.TES KETEPATAN
• nama : tes persepsi kinestetik (Sudjarwo 1989: 195)
• tujuan : mengukur kemampuan kinestetik dalam menentukan posisi tertentu pada bidang horizontal
• alat/fasilitas : meteran, penutup mata, pensil
• pelaksanaan :
di buat garis vertikal pada dinding setinggi mata rata-rata testi pada posisi duduk. Testi berkosentrasi pada garis lurus pada ujung ke ujung, kemudian mencoba sekali menunjuk ujung garis atas dan berpindah menunjuk ujung yang lainnya, setelah mencoba sekali tutut mata dan melakukan tes yang sebenarnya. Testi di minta menunjuk pada kedua titik tersebut testi melakukan 4 kali ulangan 2 kali titik sebelah kiri dan 2 kali titik sebelah kanan.
• penilaian : Penyimpangan dari titik yang di tentukan di ukur dalam (cm) sampai 0,5cm terdekat, nilainya yaitu 4 kali jumlah ulangan..
5.TES KESEIMBANGAN DINAMIS
• Nama tes : Dinamic Balance Tes. (Barry L. Johnson dan Javk Nelson 1985:242)
• Tujuan : Mengatur Keseimbangan Dinamis
• Alat/ Fasilitas : Stopwatch, Balok, Isolasi, Alat tulis, dan Blangko penilaian.
• Pelaksanaan :
Teste berdiri dengan kaki kanan di atas tanda start, teste mulai meloncat dengan satu kaki dan mendarat dengan kaki yang sama pertahankan keseimbangan selama 5 detik, kemudian teste meloncat ke tanda yang ke dua dengan kaki kanan dan mendarat dengan kaki kiri yang sama pertahankan selama 5 detik, kerjakan sampai tanda berakhir.
• Skor
Nilai 5 di berikan bila hasil mendarat pada satu tanda nilai 1 untuk setiap detik keberhasilan mempertahankan keseimbangan (MAX 5 DETIK UNTUK SETIAP TANDA).
nilai 5 di berikan untuk tiap terjadi kesalahan pendarata atau tidak mampu mempertahankan keseimbangan.
Kemungkinan nilai yang di capai 100.
9
Manfaat Ketepatan
Ketepatan ialah kemampuan seseorang untuk mengarahkan sesuatu gerak ke suatu sasaran dengan tujuannya. Menurut Sanjoto yang dikutip oleh Soleh (2007: 6), bahwa ketepatan adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran.Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang untuk mencapai target yang diinginkan. Menurut Poerwadarminto (1979: 1055), ketepatan dapat diartikan sebagai ketelitian atau kejutan. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 59), ketepatan adalah kemampuan dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran. Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang untuk mencapai target yangdiinginkan.
Jadi ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk menentukan dan mengubah arah bola dengan tepat dan cepat, pada waktu bola sedang bergerak tanpa kehilangan arah sehingga penempatan bola dan tujuan jatuhnya bola yang diharapkan. Sehingga kita mudah untuk menentukan target sasaran dalam servis atas bola voli dan bisa dengan mudah untuk mendapatkan point.
Tujuan Ketepatan
Latihan juga dapat mempengaruhi kemampuan ketepatan seseorang. Menurut Suharno HP (1992: 56), ciri-ciri latihan untuk ketepatan antara lain: “1) harus ada sasaran yang dituju gerakan tersebut, 2) kecermatan atau ketelitian dalam melakukan gerakan, 3) waktu pelaksanaan tertentu sesuai dengan peraturan, 4) adanya suatu evaluasi atau penilaian dalam latihan”. Jadi dalam latihan untuk meningkatkan ketepatan servis harus ada sasaran yang digunakan, dan disini sasaran yang digunakan adalah lapangan yang dibagi dengan garis dan di daerah yang dibagi tersebut diberi nilai atau skor untuk menilai kemampuan servis dari siswa. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 59), ketepatan adalah kemampuan dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran. Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang untuk mencapai target yang diinginkan. Ketepatan berhubungan dengan keinginan untuk memberikan arah kepada sasaran dengan maksud dan tujuan tertentu.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan ketepatan servis atas dapat dilatih dengan cara-cara yang telah diutarakan diatas. Agar baik dalam menempatkan bola ke daerah lawan yang sulit dijangkau lawan atau pemain yang memiliki kemampuan servis yang lemah sehingga akan menghasilkan poin bagi regunya. Jadi ketepatan sangat besar pengaruhnya untuk memperoleh poin dengan menentukan target sasarannya. Karena ketepatan melempar adalah kemampuan seseorang melakukan lemparan menuju sasaran yang dilihat dan mengenai sasaran tersebut pada jarak lempar tertentu.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
• Ketepatan atau biasa disebut dengan accuracy adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengubah gerakan secepat-cepatnya sesuai dengan target atau mengarahkan gerakan ke suatu sasaran sesuai dengan tujuannya. Ketepatan hampir disamakan dengan kecepatan. Ketepatan merupakan salah satu komponen dasar biomotorik yang diperluka disetiap cabang olahraga
• Faktor yang mempengaruhi ketepatan salah satunya adalah konsentrasi. Konsentrasi adalah pemikiran terhadap pelaksanaan suatu usaha setelah adanya kesiapan dan kematangan bertindak yang dilandasi oleh sifat-sifat kepribadian yang ideal.
• Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kemampuan dan prestasi atlet adalah penerapan prinsip-prinsip latihan dalam pelaksanaan program latihan. Agar prestasi dapat meningkat, latihan harus berpedoman pada teori dan prinsip latihan
• Cara - cara melatih ketepatan dalam olahraga sebagai berikut : Untuk olahraga voly, latihan dengan menggunakan metode sasaran tetap yaitu metode atau cara melatih ketepatan dengan menggunakan sasaran yang sama secara terus menerus dan tidak mengubah sasaran satu set dapat diselesaikan yang ditentukan oleh pelatih. Latihan ketepatan dalam permainan ini seperti latihan servis lompat, dengan metode sasaran berubah arah dengan menggunakan sasaran berubah-ubah dalam setiap satu setnya dengan sesuai keinginan pemain. (gunawan. 2012 : hal 98)
SARAN
Sebagai seorang mahasiswa olahraga, perlu sekali mempelajari dan memahami tentang ketetpatan karena seorang mahasiswa olaragah itu selalu dibebankan dan berkelut dengan ilmu-ilmu olahraga.
10
DAFTAR PUSTAKA
Suharno, H. P. 1981. Metodik Melatih Permainan Bolavoli. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Soleh Hartadi. 2007. Kontribusi Kekuatan Otot Lengan dan Koordinasi Mata Tangan dengan Ketepatan Servis Atlet Bolavoli Yunior di Klub Bolavoli Yuso Yogyakarta. Skripsi.
Sukadiyanto. (2002). Teori Dan Metodologi Melatih Fisik Tenis.Yogyakarta: FIK UNY.
Sajoto.1988.Penguatan dan Pembinaan Kondisi Fisik. Semarang: IKIP Semarang.
Poerwodarminto. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Nossek, J. (1982). General Theory of Training. National Institut For Sports, Pan African Press Ltd, Lagos.
TES DAN PENGUKURAN KELOMPOK 4
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4
MUH. ILHAM. S (1731042016)
NUR HALIM (1731042018)
MUH. AZHARIL (1731042020)
AHMAD TAUFIK (1731042014)
SULFAHMI (1731042051)
JURUSAN PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN
DAN REKREASI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nyalah maka kami telah menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “kecepatan”. Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon pemakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.
Makassar, 23 februari 2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. LATAR BELAKANG 1
B. RUMUSAN MASALAH 1
C. TUJUAN 1
D. MANFAAT 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. PENGERTIAN KECEPATAN 3
B. TUJUAN DAN MANFAAT KECEPATAN 4
C. MACAM-MACAM KECEPATAN 4
D. TES PENGUKURAN KECEPATAN 4
E. BENTUK-BENTUK LATIHAN KECEPATAN 8
BAB III PENUTUP 10
A. KESIMPULAN 10
B. SARAN 10
DAFTAR PUSTAKA 11
BIODATA 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan yang pesat di bidang olahraga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pengalaman membuktikan bahwa untuk mencapai prestasi yang tinggi tidak cukup hanya dengan berlatih yang teratur,terukur, dan terprogram, tetapi harus ditunjang dengan ilmu-ilmu penunjang lainnya. Untuk peningkatan prestasi olahraga sangat membutuhkan kondisi fisik yang prima, misalnya kecepatan.
Seringkali kecepatan menjadi factor penentu dalam cabang olahraga seperti nomor-nomor sprint, anggar, tinju, dan beberapa cabang olahraga permainan. Karena kecepatan dalam banyak cabang merupakan komponen kondisi fisik yang esensial (Harsono, 1988: 2016). Kecepatan dipengaruhi oleh waktu reaksi, sedangkan waktu reaksi tergantung pada proses rangsang indera atau saraf pendengaran dan saraf perintah. Misalnya sesorang sedang melakukan start dalam lari sprint, maka waktu reaksi itu adalah waktu mendengarkan aba-aba start sampai gerak pertama yang dilakukan (Sajoto, 1988: 54-55).
Menurut Fox dan Mathews (1981) yang dikutip oleh soedarno mengatakan bahwa kira-kira diperlukan waktu 6 detik untuk mencapai kecepatan maksimum dari mulai start diam. Untuk dapat mengalami kecepatan maksimum, seorang pelari hendaknya berlari minimal 50 yard. Sedangkan kecepatan ulangan latihan kecepatan baru dimulai lagi setelah keadaan pulih asal benar (Soedarno, SP, 1982: 91).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kecepatan?
2. Apa tujuan dan manfaat dari kecepatan?
3. Jelaskan macam-macam kecepatan!
4. Bagaimana proses tes pengukuran kecepatan?
5. Bagaimana bentuk-bentuk latihan kecepatan?
C. Tujuan
- Dapat memahami maksud atau definisi dari kecepatan
- Dapat memahami tujuan dan manfaat dari kecepatan
- Dapat memahami macam-macam kecepatan
- Dapat memahami bagaimana proses tes pengukuran kecepatan
- Dapat memahami bagaimana bentuk-bentuk latihan kecepatan
D. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata kuliah tersebut. Selain itu, makalah ini juga bermanfaat untuk bahan pengajaran di bidang pendidikan maupun penyelesaian penelitian-penelitian. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa kecepatan sangat mempengaruhi kelincahan sesorang, karena kelincahan merupakan suatu komponen yang dapat melakukan aktivitas secara cepat dan sehat atau dengan kata lain bugar.
Pada umumnya, kecepatan adalah kemampuan untuk menggerakkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan dapat diketahui dengan menghitung waktu yang diperlukan seseorang dari pertama mulai gerak sampai akhir gerakan.
Pada dasarnya, melatih kecepatan sangat identic dengan olahraga lari. Sebagai mana yang telah kita ketahui bahwa banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh dari olahraga itu. Mungkin sebagian dari anda lebih tertarik untuk melakukan latihan beban.
Hal ini karena latihan beban dapat membentuk tubuh anda menjadi lebih proporsional. Akan tetapi, berlari merupakan olahraga yang menyenangkan. Salah satu manfaat yang bisa kita rasakan dari bentuk latihan ini adalah meningkatnya daya tahan jantung dan paru-paru.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kecepatan
Upaya pencapaian prestasi atau hasil optimal dalam berolahraga memerlukan beberapa macam penerapan unsur pendukung keberhasilan seperti kecepatan. Kecepatan adalah waktu yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melakukan suatu kerja fisik tertentu. Kecepatan dalam banyak cabang olahraga merupakan inti dan sangat diperlukan agar dapat dengan segera memindahkan tubuh atau menggerakkan anggota tubuh dari satu posisi ke posisi lainnya.
Kecepatan atau speeds, adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya. Seperti dalam lari cepat, pukulan dalam tinju, balap sepeda, smash dalam bulutangkis, dan lain-lain (Dwiyogo dan Sulistyorini, 1991:29).
Pengertian kecepatan menurut Harsono (2001:36) adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu sesingkat-singkatnya atau kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang cepat.
Abdul Kadir Ateng (1997:67), menyatakan bahwa kecepatan adalah kemampuan individu untuk melakukan gerakan yang sama berulang-ulang dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan menurut Kirkendall dkk (1980:243) adalah jarak dibagi waktu , kecepatan diukur dengan satuan jarak dibagi dengan satuan waktu. Menurut Kent (dalam Budiwanto, 2004:37) kecepatan adalah jarak tempuh per satuan waktu yang diukur dalam menit atau skala kuantitas, kecepatan adalah kemampuan melakukan gerakan dalam periode waktu yang pendek.
Selanjutnya menurut Dick (1989) dalam Yunyun Yudiana dkk (2011:10), kecepatan adalah kapasitas gerak dari anggota tubuh atau bagian dari system pengungkit tubuh atau kecepatan pergerakan dari seluruh tubuh yang dilaksanakan dalam waktu yang singkat. Berdasarkan pada beberapa pengertian tentang kecepatan yang disampaikan oleh para ahli tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan merupakan suatu komponen kondisi fisik yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan secara berturut-turut atau memindahkan tubuh dari posisi tertentu ke posisi yang lain pada jarak tertentu pada waktu yang sesingkat-singkatnya.
B. Tujuan dan Manfaat Kecepatan
Dapat melakukan hal-hal atau aktivitas keseharian dengan lebih cepat.
Dapat meningkatkan kecermatan.
Untuk melatih kekencangan otot dan melatih agar badan atau seluruh anggota tubuh tidak kaku.
Melatih kelincahan dalam berlari.
Membuat badan bugar dan sehat.
C. Macam-Macam Kecepatan
1. Kecepatan Sprint
Kecepatan sprint adalah kemampuan organisme atlet bergerak ke depan dengan kekuatan dan kecepatan maksimal untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Contohnya pada pemain sepak bola saat berlari mengejar bola.
2. Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi adalah kemampuan organisme atlet untuk menjawab suatu rangsang secepat mungkin dalam mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Contohnya pada pemain sepak bola saat menyambut umpan, pemain tersebut langsung dengan sigap menyambutnya.
3. Kecepatan Bergerak
Kecepatan bergerak adalah kemampuan organisme atlet untuk bergerak secepat mungkin dalam satu gerakan yang tidak terputus.
D. Tes Pengukuran Kecepatan
Tes kecepatan merupakan tes pengukuran pada kecepatan sesorang yaitu gerakan atau kecerdasan dan lain-lain. Tes kecepatan ini berfungsi untuk tes kemampuan kecerdasan otak misalnya dalam menghitung jumlah angka dengan cepat dan benar, karena dalam tes ini dibatasi oleh waktu pengerjaan yang cukup cepat. Contoh lain tes kecepatan yaitu tes lari 50 meter. Dengan penilaian, hasil yang dicatat adalah waktu yang digunakan peserta untuk berlari menempuh jarak 50 meter.
• Contoh tes lari 50 meter, tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan.
Alat dan fasilitas:
1. Lintasan lurus, rata, tidak licin,mempunyai lintasan lanjutan, berjarak 50 meter
2. Bendera start
3. Peluit
4. Tiang pancang
5. Stopwatch
6. Serbuk kapur
7. Formulir tes
8. Alat tulis
Petugas tes:
1. Petugas pemberangkatan
2. Pengukur waktu merangkap sebagai pencatat hasil
Pelaksanaan:
1. Sikap permulaan
Peserta berdiri di belakang garis start
2. Gerakan
a. Pada aba-aba “siap” peserta mengambil sikap start berdiri, sikap untuk lari
b. Pada aba-aba “ya” peserta lari secepat mungkin menuju garis finish.
3. Lari masih bisa diulang apabila peserta:
a. Mencuri start
b. Tidak melewati garis finish
c. Terganggu oleh pelari lainnya
d. Terpeleset
Pengukuran Waktu
Pengukuran waktu dilakukan dari saat bendera start diangkat sampai pelari melintasi garis finish.
Pencatat Hasil
1. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 50 meter dalam satuan detik
2. Waktu dicatat satu angka di belakang koma
3. Contoh table penilaian lari 50 meter sebagai berikut:
skor Lari 50 meter putra kriteria Lari 50 meter putri
5 s.d – 6,7 Baik sekali s.d – 7,7
4 6,8 – 7,6 Baik 7,8 – 8,7
3 7,7 - 8,7 Cukup 8,8 – 9,9
2 8,8 – 10,3 Kurang 10,0 – 11,9
1 10,4 – dst Kurang sekali 12,0 - dst
• Tes Lari Cepat 6 Detik
Tujuan: untuk mengukur kecepatan lari.
Fasilitas/alat: lintasan lari (jalan datar), stop watch, nomor dada, pistol (bendera start), alat pengukur jarak (meteran), peluit, kertas, pensil (pulpen).
Petugas: pemberi aba-aba start, pengambil waktu, pencatat skor, pengawas lintasan, pengukur jarak tempuh.
Pelaksanaan: peserta tes berdiri di belakang garis start, pada aba-aba “siap” peserta tes berjalan ke depan mengambil posisi start berdiri. Pada aba-aba “ya” atau “bunyi tembakan pistol” atau “tanda bendera start” stop watch dijalankan, peserta tes segera berlari sekencang-kencangnya sampai tanda waktu 6 detik selesai dengan “bunyi peluit” dan stop watch dihentikan. Kesempatan diberikan 2 kali dengan selang waktu 5 menit. Pengukuran dilakukan dengan mencatat jarak (dalam satuan meter) yang berhasil ditempuh peserta tes selama 6 detik. Jarak tempuh tidak diukur apabila peserta tes berhenti berlari.
Penilaian: jarak tempuh terbaik yang berhasil ditempuh dari 2 kali kesempatan selama 6 detik dicatat sebagai hasil akhir peserta tes. Hasil yang diperoleh dikonversikan pada tabel berikut ini.
Jenis Kelamin dan Jarak (Yards) Kategori
15 – 18 Th 19 – 23 Th
Putra Putri Putra Putri
51 - ke atas 43 – ke atas 54 – ke atas 45 – ke atas Sangat baik
48 – 50 40 – 42 51 – 53 42 – 44 Baik
43 – 47 35 – 39 42 – 50 35 – 41 Sedang
40 – 42 32 – 34 37 – 41 29 – 34 Kurang
0 – 39 0 – 31 0 – 36 0 – 28 Sangat kurang
Sumber: Iskandar, dkk. (1999 : 52)
• Tes Lari Cepat Usia Sekolah
Pada Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (1993) dicantumkan salah satu dari rangkaian tes adalah lari cepat. Jarak tempuh tes lari cepat disesuaikan dengan kelompok umur:
a. 6-9 tahun, 30 meter untuk putra dan putri.
b. 10-12 tahun, 40 meter untuk putra dan putri.
c. 13-15 tahun, 50 meter untuk putra dan putri.
d. 16-19 tahun, 60 meter untuk putra dan putri.
Tujuan: untuk mengukur kecepatan lari
Fasilitas/alat: lintasan lari, stop watch, nomor dada, bendera start, peluit, serbuk kapur, kertas, pensil/pulpen.
Petugas: pemberi aba-aba start, pengambil waktu, pencatat skor.
Pelaksanaan: peserta tes berdiri di belakang garis start, pada aba-aba “siap” peserta tes mengambil sikap start berdiri, siap untuk lari. Pada aba-aba “ya” peserta tes berlari secepat mungkin menuju garis finish menempuh jarak yang ditentukan. Lari diulang bilamana peserta tes curi start, peserta tes tidak melewati garis finish, peserta tes terganggu dengan pelari yang lain. Apabila peserta tes berhenti karena tidak kuat atau kelelahan tes dianggap gagal.
Penilaian: waktu yang ditempuh dari saat start sampai melewati garis finish, dicatat dalam satuan menit dan detik sebagai hasil akhir peserta tes yang diperoleh dikonversikan pada tabel berikut ini.
6 – 9 Th Nilai 10 – 12 Th
Putra Putri Putra Putri
Sd – 5.5 Sd – 5.8 5 Sd – 6.3 Sd – 6.7
5.6 – 6.1 5.9 – 6.6 4 6.4 – 6.9 6.8 – 7.5
6.2 – 6.9 6.7 – 7.8 3 7.0 – 7.7 7.6 – 8.3
7.0 – 8.6 7.9 – 9.2 2 7.8 – 8.8 8.4 – 9.6
8.7 – dst. 9.3 – dst. 1 8.9 – dst. 9.7 – dst.
13 – 15 Th Nilai 16 – 19 Th
Putra Putri Putra Putri
Sd – 6.7 Sd – 7.7 5 Sd – 7.2 Sd – 8.4
6.8 – 7.6 7.8 – 8.7 4 7.3 – 8.3 8.6 – 9.6
7.7 – 8.7 8.8 – 9.9 3 8.4 – 9.8 9.9 – 11.4
8.8 – 10.3 10.0 – 11.9 2 9.7 – 11.0 11.5 – 13.4
10.4 – dst. 12.0 – dst. 1 11.1 – dst. 13.5 – dst.
E. Bentuk-Bentuk Latihan Kecepatan
Contoh konsep kecepatan dalam olahraga seperti pada permainan bulutangkis. Kecepatan gerak sangat dibutuhkan, mulai dari datangnya shuttle cock ke arah tertentu. Kemudian pemain bergerak dengan cepat untuk menguasai shuttle cock dan berusaha mengembalikannya ke lapangan lawan ke tempat yang sulit dijangkau lawan.
Latihan untuk kecepatan gerak dalam olahraga bulutangkis salah satunya adalah dengan cara melakukan gerakan secepat-cepatnya. Contohnya memukul shuttle cock yang berulang-ulang dengan waktu yang tepat atau dengan berlari secepat-cepatnya dalam jarak yang pendek. Dapat pula dengan latihan beban yang dilakukan dengan cepat.
Lari sprint berulang-ulang 5 kali dengan jarak 10 m
Tujuannya, meningkatkan kecepatan bergerak. Pelaksanaannya:
• Berdiri dengan awalan hari.
• Aba-aba siap, ya, gerakan lari secepatnya sampai finish dengan jaraknya sekitar 25 km.
• Kembali dengan berjalan ke arah awal berlari.
• Lakukan lari ini berulang-ulang dengan jarak yang sesuai sebanyak 5 kali.
Lari sprint berulang-ulang 3 kali dengan jarak 20 m. Pelaksanaannya:
• Berdiri dengan awalan lari.
• Aba-aba siap, ya berlari secepatnya sampai finish dengan jarak sekitar 50 m.
• Kembali dengan berjalan ke arah awal berlari.
• Lakukan lari ini berulang-ulang dengan jarak yang sama sebanyak 3 kali.
Lari sprint berulang-ulang 2 kali dengan jarak 25 m. Pelaksanaannya:
• Berdiri dengan awalan lari.
• Aba-aba siap, ya berlari secepatnya sampai finish dengan jarak 80 m.
• Kembali dengan berjalan ke arah awal berlari.
• Lakukan lari ini berulang-ulang dengan jarak yang sama sebanyak 2 kali.
Contoh gambar bentuk latihan kecepatan:
(A) (B)
Keterangan gambar:
(A) Gambar tersebut menunjukkan salah satu bentuk latihan kecepatan pada sepak bola.
(B) Gambar yang menunjukkan salah satu bentuk latihan kecepatan dalam berolahraga.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
• Dapat disimpulkan bahwa kecepatan merupakan suatu komponen kondisi fisik yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan secara berturut-turut atau memindahkan tubuh dari posisi tertentu ke posisi yang lain pada jarak tertentu pada waktu yang sesingkat-singkatnya.
• Kecepatan bertujuan untuk melatih kekencangan otot dan melatih agar badan atau seluruh anggota tubuh tidak kaku.
• Kecepatan terdiri atas yakni kecepatan sprint, kecepatan reaksi, dan kecepatan bergerak.
• Tes kecepatan merupakan tes pengukuran pada kecepatan seseorang yaitu gerakan atau kecerdasan dan lain-lain sebagainya.
• Bentuk-bentuk latihan kecepatan yaitu olahraga bulutangkis merupakan salah satunya cara melakukan gerakan latihan kecepatan.
B. Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami. Apabila ada terdapat kesalahan mohon di maafkan dan memakluminya karna kami adalah Hamba Allah yang tak luput dari salah dan khilaf, kami juga butuh saran/kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah (Tes Dan Pengukuran Olahraga) Yaitu Bapak (Dr. Benny Badaru M.Pd). yang telah memberi kami tugas kelompok demi kebaikan dari kita sendiri dan untuk Negara dan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Nala Ngurah. Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Program Pascasarjana Prodi Fisiologi Olahraga. Universitas Udayana. Denpasar 1998.
Sajoto. Peningkatan Dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Dahara Prize Semarang. 1995.
Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam Coaching. Jakarta: CV. Tambak Kusuma.
Kirkendall. R.A. 1980. Measurement And Evaluations For Physical Education. IOWA: Wm. C. Brown Company Publishers.
BIODATA
NAMA : MUH. ILHAM. S
NIM : 1731042016
TTL : SOPPENG, 28 AGUSTUS 1998
ALAMAT : JL. CUMI-CUMI
JABATAN : KETUA/PEMATERI
NO. HP : 085394913393
NAMA : MUHAMMAD AZHARIL
NIM : 1731042020
TTL : SUKAMAJU, 10 SEPTEMBER 1998
ALAMAT : PAMPANG RAYA
JABATAN : ANGGOTA/PEMATERI
NO. HP : 082293177011
NAMA : AHMAD TAUFIQ
NIM : 1731042014
TTL : BANTAENG, 4 OKTOBER 1998
ALAMAT : BTN MINASAUPA
JABATAN : SEKRETARIS/NOTULEN
NO. HP : 083138264709
NAMA : NUR HALIM
NIM : 1731042018
TTL : TAKALAR, 13 JULI 1999
ALAMAT : ANTANG
JABATAN : ANGGOTA/MODERATOR
NO. HP : 085146366932
NAMA : SULFAHMI
NIM : 1731042051
TTL : GOWA, 5 OKTOBER 1999
ALAMAT : JL. MALINO
JABATAN : ANGGOTA/PEMATERI
NO. HP : 082353070826
KELOMPOK 4
MUH. ILHAM. S (1731042016)
NUR HALIM (1731042018)
MUH. AZHARIL (1731042020)
AHMAD TAUFIK (1731042014)
SULFAHMI (1731042051)
JURUSAN PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN
DAN REKREASI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nyalah maka kami telah menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “kecepatan”. Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon pemakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.
Makassar, 23 februari 2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. LATAR BELAKANG 1
B. RUMUSAN MASALAH 1
C. TUJUAN 1
D. MANFAAT 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. PENGERTIAN KECEPATAN 3
B. TUJUAN DAN MANFAAT KECEPATAN 4
C. MACAM-MACAM KECEPATAN 4
D. TES PENGUKURAN KECEPATAN 4
E. BENTUK-BENTUK LATIHAN KECEPATAN 8
BAB III PENUTUP 10
A. KESIMPULAN 10
B. SARAN 10
DAFTAR PUSTAKA 11
BIODATA 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan yang pesat di bidang olahraga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pengalaman membuktikan bahwa untuk mencapai prestasi yang tinggi tidak cukup hanya dengan berlatih yang teratur,terukur, dan terprogram, tetapi harus ditunjang dengan ilmu-ilmu penunjang lainnya. Untuk peningkatan prestasi olahraga sangat membutuhkan kondisi fisik yang prima, misalnya kecepatan.
Seringkali kecepatan menjadi factor penentu dalam cabang olahraga seperti nomor-nomor sprint, anggar, tinju, dan beberapa cabang olahraga permainan. Karena kecepatan dalam banyak cabang merupakan komponen kondisi fisik yang esensial (Harsono, 1988: 2016). Kecepatan dipengaruhi oleh waktu reaksi, sedangkan waktu reaksi tergantung pada proses rangsang indera atau saraf pendengaran dan saraf perintah. Misalnya sesorang sedang melakukan start dalam lari sprint, maka waktu reaksi itu adalah waktu mendengarkan aba-aba start sampai gerak pertama yang dilakukan (Sajoto, 1988: 54-55).
Menurut Fox dan Mathews (1981) yang dikutip oleh soedarno mengatakan bahwa kira-kira diperlukan waktu 6 detik untuk mencapai kecepatan maksimum dari mulai start diam. Untuk dapat mengalami kecepatan maksimum, seorang pelari hendaknya berlari minimal 50 yard. Sedangkan kecepatan ulangan latihan kecepatan baru dimulai lagi setelah keadaan pulih asal benar (Soedarno, SP, 1982: 91).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kecepatan?
2. Apa tujuan dan manfaat dari kecepatan?
3. Jelaskan macam-macam kecepatan!
4. Bagaimana proses tes pengukuran kecepatan?
5. Bagaimana bentuk-bentuk latihan kecepatan?
C. Tujuan
- Dapat memahami maksud atau definisi dari kecepatan
- Dapat memahami tujuan dan manfaat dari kecepatan
- Dapat memahami macam-macam kecepatan
- Dapat memahami bagaimana proses tes pengukuran kecepatan
- Dapat memahami bagaimana bentuk-bentuk latihan kecepatan
D. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata kuliah tersebut. Selain itu, makalah ini juga bermanfaat untuk bahan pengajaran di bidang pendidikan maupun penyelesaian penelitian-penelitian. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa kecepatan sangat mempengaruhi kelincahan sesorang, karena kelincahan merupakan suatu komponen yang dapat melakukan aktivitas secara cepat dan sehat atau dengan kata lain bugar.
Pada umumnya, kecepatan adalah kemampuan untuk menggerakkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan dapat diketahui dengan menghitung waktu yang diperlukan seseorang dari pertama mulai gerak sampai akhir gerakan.
Pada dasarnya, melatih kecepatan sangat identic dengan olahraga lari. Sebagai mana yang telah kita ketahui bahwa banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh dari olahraga itu. Mungkin sebagian dari anda lebih tertarik untuk melakukan latihan beban.
Hal ini karena latihan beban dapat membentuk tubuh anda menjadi lebih proporsional. Akan tetapi, berlari merupakan olahraga yang menyenangkan. Salah satu manfaat yang bisa kita rasakan dari bentuk latihan ini adalah meningkatnya daya tahan jantung dan paru-paru.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kecepatan
Upaya pencapaian prestasi atau hasil optimal dalam berolahraga memerlukan beberapa macam penerapan unsur pendukung keberhasilan seperti kecepatan. Kecepatan adalah waktu yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melakukan suatu kerja fisik tertentu. Kecepatan dalam banyak cabang olahraga merupakan inti dan sangat diperlukan agar dapat dengan segera memindahkan tubuh atau menggerakkan anggota tubuh dari satu posisi ke posisi lainnya.
Kecepatan atau speeds, adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya. Seperti dalam lari cepat, pukulan dalam tinju, balap sepeda, smash dalam bulutangkis, dan lain-lain (Dwiyogo dan Sulistyorini, 1991:29).
Pengertian kecepatan menurut Harsono (2001:36) adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu sesingkat-singkatnya atau kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang cepat.
Abdul Kadir Ateng (1997:67), menyatakan bahwa kecepatan adalah kemampuan individu untuk melakukan gerakan yang sama berulang-ulang dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan menurut Kirkendall dkk (1980:243) adalah jarak dibagi waktu , kecepatan diukur dengan satuan jarak dibagi dengan satuan waktu. Menurut Kent (dalam Budiwanto, 2004:37) kecepatan adalah jarak tempuh per satuan waktu yang diukur dalam menit atau skala kuantitas, kecepatan adalah kemampuan melakukan gerakan dalam periode waktu yang pendek.
Selanjutnya menurut Dick (1989) dalam Yunyun Yudiana dkk (2011:10), kecepatan adalah kapasitas gerak dari anggota tubuh atau bagian dari system pengungkit tubuh atau kecepatan pergerakan dari seluruh tubuh yang dilaksanakan dalam waktu yang singkat. Berdasarkan pada beberapa pengertian tentang kecepatan yang disampaikan oleh para ahli tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan merupakan suatu komponen kondisi fisik yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan secara berturut-turut atau memindahkan tubuh dari posisi tertentu ke posisi yang lain pada jarak tertentu pada waktu yang sesingkat-singkatnya.
B. Tujuan dan Manfaat Kecepatan
Dapat melakukan hal-hal atau aktivitas keseharian dengan lebih cepat.
Dapat meningkatkan kecermatan.
Untuk melatih kekencangan otot dan melatih agar badan atau seluruh anggota tubuh tidak kaku.
Melatih kelincahan dalam berlari.
Membuat badan bugar dan sehat.
C. Macam-Macam Kecepatan
1. Kecepatan Sprint
Kecepatan sprint adalah kemampuan organisme atlet bergerak ke depan dengan kekuatan dan kecepatan maksimal untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Contohnya pada pemain sepak bola saat berlari mengejar bola.
2. Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi adalah kemampuan organisme atlet untuk menjawab suatu rangsang secepat mungkin dalam mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Contohnya pada pemain sepak bola saat menyambut umpan, pemain tersebut langsung dengan sigap menyambutnya.
3. Kecepatan Bergerak
Kecepatan bergerak adalah kemampuan organisme atlet untuk bergerak secepat mungkin dalam satu gerakan yang tidak terputus.
D. Tes Pengukuran Kecepatan
Tes kecepatan merupakan tes pengukuran pada kecepatan sesorang yaitu gerakan atau kecerdasan dan lain-lain. Tes kecepatan ini berfungsi untuk tes kemampuan kecerdasan otak misalnya dalam menghitung jumlah angka dengan cepat dan benar, karena dalam tes ini dibatasi oleh waktu pengerjaan yang cukup cepat. Contoh lain tes kecepatan yaitu tes lari 50 meter. Dengan penilaian, hasil yang dicatat adalah waktu yang digunakan peserta untuk berlari menempuh jarak 50 meter.
• Contoh tes lari 50 meter, tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan.
Alat dan fasilitas:
1. Lintasan lurus, rata, tidak licin,mempunyai lintasan lanjutan, berjarak 50 meter
2. Bendera start
3. Peluit
4. Tiang pancang
5. Stopwatch
6. Serbuk kapur
7. Formulir tes
8. Alat tulis
Petugas tes:
1. Petugas pemberangkatan
2. Pengukur waktu merangkap sebagai pencatat hasil
Pelaksanaan:
1. Sikap permulaan
Peserta berdiri di belakang garis start
2. Gerakan
a. Pada aba-aba “siap” peserta mengambil sikap start berdiri, sikap untuk lari
b. Pada aba-aba “ya” peserta lari secepat mungkin menuju garis finish.
3. Lari masih bisa diulang apabila peserta:
a. Mencuri start
b. Tidak melewati garis finish
c. Terganggu oleh pelari lainnya
d. Terpeleset
Pengukuran Waktu
Pengukuran waktu dilakukan dari saat bendera start diangkat sampai pelari melintasi garis finish.
Pencatat Hasil
1. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 50 meter dalam satuan detik
2. Waktu dicatat satu angka di belakang koma
3. Contoh table penilaian lari 50 meter sebagai berikut:
skor Lari 50 meter putra kriteria Lari 50 meter putri
5 s.d – 6,7 Baik sekali s.d – 7,7
4 6,8 – 7,6 Baik 7,8 – 8,7
3 7,7 - 8,7 Cukup 8,8 – 9,9
2 8,8 – 10,3 Kurang 10,0 – 11,9
1 10,4 – dst Kurang sekali 12,0 - dst
• Tes Lari Cepat 6 Detik
Tujuan: untuk mengukur kecepatan lari.
Fasilitas/alat: lintasan lari (jalan datar), stop watch, nomor dada, pistol (bendera start), alat pengukur jarak (meteran), peluit, kertas, pensil (pulpen).
Petugas: pemberi aba-aba start, pengambil waktu, pencatat skor, pengawas lintasan, pengukur jarak tempuh.
Pelaksanaan: peserta tes berdiri di belakang garis start, pada aba-aba “siap” peserta tes berjalan ke depan mengambil posisi start berdiri. Pada aba-aba “ya” atau “bunyi tembakan pistol” atau “tanda bendera start” stop watch dijalankan, peserta tes segera berlari sekencang-kencangnya sampai tanda waktu 6 detik selesai dengan “bunyi peluit” dan stop watch dihentikan. Kesempatan diberikan 2 kali dengan selang waktu 5 menit. Pengukuran dilakukan dengan mencatat jarak (dalam satuan meter) yang berhasil ditempuh peserta tes selama 6 detik. Jarak tempuh tidak diukur apabila peserta tes berhenti berlari.
Penilaian: jarak tempuh terbaik yang berhasil ditempuh dari 2 kali kesempatan selama 6 detik dicatat sebagai hasil akhir peserta tes. Hasil yang diperoleh dikonversikan pada tabel berikut ini.
Jenis Kelamin dan Jarak (Yards) Kategori
15 – 18 Th 19 – 23 Th
Putra Putri Putra Putri
51 - ke atas 43 – ke atas 54 – ke atas 45 – ke atas Sangat baik
48 – 50 40 – 42 51 – 53 42 – 44 Baik
43 – 47 35 – 39 42 – 50 35 – 41 Sedang
40 – 42 32 – 34 37 – 41 29 – 34 Kurang
0 – 39 0 – 31 0 – 36 0 – 28 Sangat kurang
Sumber: Iskandar, dkk. (1999 : 52)
• Tes Lari Cepat Usia Sekolah
Pada Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (1993) dicantumkan salah satu dari rangkaian tes adalah lari cepat. Jarak tempuh tes lari cepat disesuaikan dengan kelompok umur:
a. 6-9 tahun, 30 meter untuk putra dan putri.
b. 10-12 tahun, 40 meter untuk putra dan putri.
c. 13-15 tahun, 50 meter untuk putra dan putri.
d. 16-19 tahun, 60 meter untuk putra dan putri.
Tujuan: untuk mengukur kecepatan lari
Fasilitas/alat: lintasan lari, stop watch, nomor dada, bendera start, peluit, serbuk kapur, kertas, pensil/pulpen.
Petugas: pemberi aba-aba start, pengambil waktu, pencatat skor.
Pelaksanaan: peserta tes berdiri di belakang garis start, pada aba-aba “siap” peserta tes mengambil sikap start berdiri, siap untuk lari. Pada aba-aba “ya” peserta tes berlari secepat mungkin menuju garis finish menempuh jarak yang ditentukan. Lari diulang bilamana peserta tes curi start, peserta tes tidak melewati garis finish, peserta tes terganggu dengan pelari yang lain. Apabila peserta tes berhenti karena tidak kuat atau kelelahan tes dianggap gagal.
Penilaian: waktu yang ditempuh dari saat start sampai melewati garis finish, dicatat dalam satuan menit dan detik sebagai hasil akhir peserta tes yang diperoleh dikonversikan pada tabel berikut ini.
6 – 9 Th Nilai 10 – 12 Th
Putra Putri Putra Putri
Sd – 5.5 Sd – 5.8 5 Sd – 6.3 Sd – 6.7
5.6 – 6.1 5.9 – 6.6 4 6.4 – 6.9 6.8 – 7.5
6.2 – 6.9 6.7 – 7.8 3 7.0 – 7.7 7.6 – 8.3
7.0 – 8.6 7.9 – 9.2 2 7.8 – 8.8 8.4 – 9.6
8.7 – dst. 9.3 – dst. 1 8.9 – dst. 9.7 – dst.
13 – 15 Th Nilai 16 – 19 Th
Putra Putri Putra Putri
Sd – 6.7 Sd – 7.7 5 Sd – 7.2 Sd – 8.4
6.8 – 7.6 7.8 – 8.7 4 7.3 – 8.3 8.6 – 9.6
7.7 – 8.7 8.8 – 9.9 3 8.4 – 9.8 9.9 – 11.4
8.8 – 10.3 10.0 – 11.9 2 9.7 – 11.0 11.5 – 13.4
10.4 – dst. 12.0 – dst. 1 11.1 – dst. 13.5 – dst.
E. Bentuk-Bentuk Latihan Kecepatan
Contoh konsep kecepatan dalam olahraga seperti pada permainan bulutangkis. Kecepatan gerak sangat dibutuhkan, mulai dari datangnya shuttle cock ke arah tertentu. Kemudian pemain bergerak dengan cepat untuk menguasai shuttle cock dan berusaha mengembalikannya ke lapangan lawan ke tempat yang sulit dijangkau lawan.
Latihan untuk kecepatan gerak dalam olahraga bulutangkis salah satunya adalah dengan cara melakukan gerakan secepat-cepatnya. Contohnya memukul shuttle cock yang berulang-ulang dengan waktu yang tepat atau dengan berlari secepat-cepatnya dalam jarak yang pendek. Dapat pula dengan latihan beban yang dilakukan dengan cepat.
Lari sprint berulang-ulang 5 kali dengan jarak 10 m
Tujuannya, meningkatkan kecepatan bergerak. Pelaksanaannya:
• Berdiri dengan awalan hari.
• Aba-aba siap, ya, gerakan lari secepatnya sampai finish dengan jaraknya sekitar 25 km.
• Kembali dengan berjalan ke arah awal berlari.
• Lakukan lari ini berulang-ulang dengan jarak yang sesuai sebanyak 5 kali.
Lari sprint berulang-ulang 3 kali dengan jarak 20 m. Pelaksanaannya:
• Berdiri dengan awalan lari.
• Aba-aba siap, ya berlari secepatnya sampai finish dengan jarak sekitar 50 m.
• Kembali dengan berjalan ke arah awal berlari.
• Lakukan lari ini berulang-ulang dengan jarak yang sama sebanyak 3 kali.
Lari sprint berulang-ulang 2 kali dengan jarak 25 m. Pelaksanaannya:
• Berdiri dengan awalan lari.
• Aba-aba siap, ya berlari secepatnya sampai finish dengan jarak 80 m.
• Kembali dengan berjalan ke arah awal berlari.
• Lakukan lari ini berulang-ulang dengan jarak yang sama sebanyak 2 kali.
Contoh gambar bentuk latihan kecepatan:
(A) (B)
Keterangan gambar:
(A) Gambar tersebut menunjukkan salah satu bentuk latihan kecepatan pada sepak bola.
(B) Gambar yang menunjukkan salah satu bentuk latihan kecepatan dalam berolahraga.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
• Dapat disimpulkan bahwa kecepatan merupakan suatu komponen kondisi fisik yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan secara berturut-turut atau memindahkan tubuh dari posisi tertentu ke posisi yang lain pada jarak tertentu pada waktu yang sesingkat-singkatnya.
• Kecepatan bertujuan untuk melatih kekencangan otot dan melatih agar badan atau seluruh anggota tubuh tidak kaku.
• Kecepatan terdiri atas yakni kecepatan sprint, kecepatan reaksi, dan kecepatan bergerak.
• Tes kecepatan merupakan tes pengukuran pada kecepatan seseorang yaitu gerakan atau kecerdasan dan lain-lain sebagainya.
• Bentuk-bentuk latihan kecepatan yaitu olahraga bulutangkis merupakan salah satunya cara melakukan gerakan latihan kecepatan.
B. Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami. Apabila ada terdapat kesalahan mohon di maafkan dan memakluminya karna kami adalah Hamba Allah yang tak luput dari salah dan khilaf, kami juga butuh saran/kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah (Tes Dan Pengukuran Olahraga) Yaitu Bapak (Dr. Benny Badaru M.Pd). yang telah memberi kami tugas kelompok demi kebaikan dari kita sendiri dan untuk Negara dan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Nala Ngurah. Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Program Pascasarjana Prodi Fisiologi Olahraga. Universitas Udayana. Denpasar 1998.
Sajoto. Peningkatan Dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Dahara Prize Semarang. 1995.
Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam Coaching. Jakarta: CV. Tambak Kusuma.
Kirkendall. R.A. 1980. Measurement And Evaluations For Physical Education. IOWA: Wm. C. Brown Company Publishers.
BIODATA
NAMA : MUH. ILHAM. S
NIM : 1731042016
TTL : SOPPENG, 28 AGUSTUS 1998
ALAMAT : JL. CUMI-CUMI
JABATAN : KETUA/PEMATERI
NO. HP : 085394913393
NAMA : MUHAMMAD AZHARIL
NIM : 1731042020
TTL : SUKAMAJU, 10 SEPTEMBER 1998
ALAMAT : PAMPANG RAYA
JABATAN : ANGGOTA/PEMATERI
NO. HP : 082293177011
NAMA : AHMAD TAUFIQ
NIM : 1731042014
TTL : BANTAENG, 4 OKTOBER 1998
ALAMAT : BTN MINASAUPA
JABATAN : SEKRETARIS/NOTULEN
NO. HP : 083138264709
NAMA : NUR HALIM
NIM : 1731042018
TTL : TAKALAR, 13 JULI 1999
ALAMAT : ANTANG
JABATAN : ANGGOTA/MODERATOR
NO. HP : 085146366932
NAMA : SULFAHMI
NIM : 1731042051
TTL : GOWA, 5 OKTOBER 1999
ALAMAT : JL. MALINO
JABATAN : ANGGOTA/PEMATERI
NO. HP : 082353070826
Langganan:
Postingan (Atom)